JIWA: JAKARTA BIENNALE 2017

 

Jakarta Biennale 2017 akan menghadirkan konsep JIWA yang dapat dimaknai sebagai daya hidup, energi, semangat, yang merupakan dorongan hakiki pada individu, kolektivitas, masyarakat, benda-benda dan alam. Lewat JIWA, JB 2017 akan mengamati berbagai ragam hubungan, menggugah sensibilitas, rasa-merasa dan mengayakan cakrawala intelektual kita. Dalam konteks seni dan budaya kontemporer di sekitar kita, perbincangan tentang JIWA tentunya memiliki implikasi politik yang nyata.

Dengan ketertarikan awal pada perjalanan sejarah seni rupa Indonesia, kajian biennale ini diupayakan dapat menemukan keterhubungannya dengan masa kini, yakni dengan mengamati berbagai jalur silsilah budaya dalam sistem kepercayaan dan negosiasi, sirkulasinya, serta menelusuri lagi polemik yang muncul pada tokoh dan peristiwa seni, termasuk kritik yang tersembunyi atau terlupakan.

Melalui program pameran, penerbitan buku dan pendidikan, Jakarta Biennale 2017 mencermati aspek-aspek nir-rupa yang melahirkan karya-karya seni dari berbagai arah dan muasalnya. Karya-karya tersebut mencakup objek-objek yang bersifat materi, praktik-praktik yang menisbikan materi (dematerialisasi) dan yang tidak kekal (impermanent). Biennale kali ini juga mengisyaratkan keterlibatan kita di dalam dunia dan bagaimana keterlibatan ini terekspresikan dalam dunia benda, seni dan tindakan. Dengan demikian, “dunia” dipertimbangkan sebagai sebuah kekuatan yang ikut menciptakan kehidupan sosial. Karenanya, JIWA bisa merujuk pada ranah korespondensi—termasuk yang non-linguistik, yang inderawi, yang (nir-)rupa, tubuh sebagai medium, dan jenis-jenis jalinan pengetahuan lain yang membangun kehidupan sosial.

Jakarta Biennale 2017 mengupayakan pemahaman atas perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat melalui keragaman bentuk dan metode seni, persinggungan pemikiran dan tindakan, serta gagasan dalam lingkup pendidikan. JB 2017 juga mengawali seri penerbitan buku demi perkembangan penulisan-penulisan kritis tentang sejarah seni Indonesia masa kini.

Penyelenggaraan Jakarta Biennale 2017 akan berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, sebuah gudang seluas 3000 meter persegi. Demi mempertemukan karya dengan lapisan masyarakat yang lebih luas, pada biennale kali ini kerja sama akan terjalin dengan beberapa museum di Jakarta, seperti Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Jakarta Biennale 2017 dirancang melalui kolaborasi antara Melati Suryodarmo yang bertindak sebagai Direktur Artistik, dengan Annissa Gultom, Vit Havranek, Philippe Pirotte, dan Hendro Wiyanto, dan didukung penuh oleh Yayasan Jakarta Biennale.

JAKARTA BIENNALE 2017 – JIWA – AKAN TERBUKA UNTUK UMUM DARI 4 NOVEMBER SAMPAI 11 DESEMBER 2017.