Abdi Karya

Abdi Karya

Abdi Karya

Lahir di Sengkang, Indonesia, pada 1982. Tinggal dan berkarya di Makassar, Indonesia.

 

 

Budaya tradisi Bugis menjadi sumber inspirasi bagi Abdi Karya dalam menciptakan karya-karyanya. Dalam penulisan naskah, teater, dan juga seni performansnya, Abdi Karya selalu mencoba membongkar makna dari pemikiran maupun filsafat yang muncul dalam adat istiadat, kisah-kisah lama, dan mitologi Bugis. Salah satu yang ia tekuni adalah mahakarya Bugis, I La Galigo, yang mengisahkan penciptaan semesta dan hingga sekarang masih dituturkan di kalangan keluarga petani.

Bagi Abdi Karya, tubuh manusia bagaikan rumah Bugis yang terdiri atas tiga bagian sebagaimana layaknya semesta, yaitu dunia atas yang diwakili oleh kepala (pikiran), dunia bawah yang diwakili oleh tubuh (kesuburan), dan dunia tengah yang merupakan tempat bagi jiwa (ruh, atau sumange’). Kesadaran terhadap tiga hal ini membangun kewaspadaan terhadap ruang, yaitu ruang dalam (perempuan, kelembutan, femininitas) dan ruang luar (laki-laki, kekuatan, maskulinitas). Rumah, sebagai ruang fisik tak bergerak, menjadi kosmos bagi tubuh dan jiwa. Rumah menjadi tempat lahir sekaligus pulang.

Dalam Memakai-Dipakai yang diciptakan pada 2016 ini, Abdi Karya memilih sarung sebagai simbol tubuh kedua masyarakat Bugis. Sarung adalah penanda ruang, waktu, dan peristiwa: sejak orang Bugis lahir hingga meninggal, sarung nyaris selalu ada. Dalam kehidupan tradisi sehari-hari, sarung memiliki berbagai fungsi, dari pakaian, pembungkus barang, hingga alat bantu memanjat. Sarung, sebagai tubuh kedua, menjadi tempat tubuh tumbuh melintasi waktu. Pikiran dan keinginan (baca: nafsu) membuat manusia lupa akan waktu. Tubuh menjadi medan pergesekan spiritualitas-intelektualitas-realitas.

Memakai-Dipakai merupakan upaya Abdi Karya untuk menyampaikan pandangannya tentang bagaimana masyarakat modern menyikapi tradisi sebagai sesuatu yang hanya bisa dibanggakan tapi tidak dijaga kelangsungan hidupnya. Baginya, tradisi menyimpan kedalaman, dan ia menggunakan kekuatan tradisi masa lalu sebagai upaya untuk membaca masa kini serta memahami dari mana ia berasal; bagaimana ia berhubungan dengan dunia di luar disiplin kerjanya.

Sejak 2004, karya-karyanya berangkat dari I La Galigo demi memperkenalkan kembali naskah tersebut sebagai teater. Sejak 2007, ia bekerja dengan seniman teater dan visual Amerika, Robert Wilson. Pada 2011–2017, Abdi adalah Manajer Pengembangan dan Kerjasama di Rumata’ ArtSpace Makassar. Ia menggagas Performance Lab, sebuah program lokakarya, pelatihan, presentasi, diskusi, dan pertunjukan di Makassar, serta membentuk kolektif teater lintas negara, 5ToMidnight International. Sebagai aktor, sutradara, dan pekerja panggung sejak masa kuliahnya di Universitas Negeri Makassar, Abdi Karya juga telah membangun jaringan kerja dengan seniman dari berbagai disiplin, di dalam dan luar Indonesia. Saat ini, ia sedang menyiapkan platform bagi beberapa ruang seni di Makassar untuk menjadi tempat residensi lintas disiplin.