Afrizal Malna

Afrizal Malna

Afrizal Malna

Lahir di Jakarta, pada 1957. Bekerja dan tinggal di Depok.

 

 

Afrizal Malna adalah seorang penyair dan penulis yang bekerja dengan beraneka rupa media, termasuk teks, hiperteks, suara, video dan instalasi. Ia pernah belajar filsafat, ikut serta di dalam festival puisi dan tampil dalam Poetry International Web. Karyanya, Teman-temanku dari Atap Bahasa, terbit tahun 2008, terpilih menjadi karya sastra terbaik tahun 2009 oleh majalah Tempo. Sejak 2016, ia menjadi anggota Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta.

Sejak tahun 1980-an, Afrizal mengangkat Bahasa puitis subjektif yang dekat dengan lingkungan budaya perkotaan Indonesia yang cepat berubah. Ketertarikannya pada penjabaran (“Warisan Kita,” 1989), daftar-daftar dan rangkuman (Jembatan Rempan-Rempah) memperlihatkan kedekatannya dengan Georges Perec dan metode-metode Oulipo (Lokakarya untuk Sastra Potensial). Pendekatan konseptual juga sering ditemukan dalam puisi-puisi videonya, yang menggabungkan puisi suara dan animasi video. Dalam karya videonya, Afrizal mengutamakan aspek tutur dari Bahasa—pengulangan, sajak musikal dan ritme—ketimbang kualitas semantiknya. Segi visual dari karya videonya menggunakan cuplikan dari lingkungan terdekat Afrizal (termasuk citraan dirinya), gambar-gambar temuan mengenai alam dan pola-pola abstrak yang disejajarkan satu sama lain (5 Gempa Orang), disunting sedemikian rupa sehingga membangkitkan kesetimbangan antara metode puitis dan visual. Esai tentang Alfabet adalah rekaman puisi visual yang didapat dari aksara yang ia tulis di atas papan tulis. Puisi tersebut menggabungkan diagram puitis-aksara. Nalar konseptual tersebut diperkuat dalam Esai tentang Puisi, sebuah esai visual mengenai hubungan antara kata (penanda) dan objek (yang ditandai). Mulai dengan meletakkan spidol di atas papan tulis, Afrizal menulis kata PENA di samping objek dan lalu lanjut sembari menciptakan puisi objek tautologis dan tanda bahasanya. Karya-karya ini adalah karya paling mewakili kedekatannya dengan seni konseptual dan puisi visual yang menempatkan prinsip makna Bahasa sebagai asal-ulul pengetahuan dan komunikasi antar manusia.

Instalasi Afrizal, Alarm (2017), dibuat khusus untuk Jakarta Biennale 2017, mempertanyakan hubungan antara kata dan rujukan semantiknya. Menggunakan teknik hipogram, asosiasi dan perlawanan kata, Afrizal berusaha mencari jalinan kata-kata yang mungkin “berbunyi” dengan jiwa. Bagaimana jiwa akhirnya bisa berbunyi seperti layaknya “alarm” yang memberikan “peringatan?” Kemudian, apa jadinya apabila dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi “alarm” sebagai “peringatan” diganti dengan “jiwa?” Menggunakan logika dalam bahasa Indonesia, Afrizal membongkar persekutuan makna yang selama ini berlaku, untuk bermain dalam bahasa ciptaannya sendiri.