Ali Al-Fatlawi & Wathiq Al-Ameri

Ali Al-Fatlawi & Wathiq Al-Ameri

Keduanya lahir di Iraq. Menetap dan bekerja di Swiss.

 

Performans Wathiq Al-Ameri dan Ali Al-Fatlawi menjadi cerminan dan tantangan bagi sikap Barat terhadap Irak dan budaya Irak – rasa takut dan harapan, rasa gentar yang bangkit akibat korban sipil, penyeberangan batas wilayah, dan tekanan psikologis yang diekspresikan lewat gestur fisik. Manusia fana yang hidup dengan perang sebagai bagian dari keseharian, dan peran ingatan serta nyawa yang hilang dalam perang, juga merupakan topik-topik penting yang diekspresikan dalam performans mereka. Wathiq dan Ali memperoleh Performance Art Award Switzerland pada 2011, disusul dengan Swiss Art Award 2012 yang prestisius. Duo ini berbasis di Swiss dan berkolaborasi sebagai bagian dari studio Urnamo yang didirikan pada 2002. Keduanya telah saling kenal sejak kecil dan belajar bersama di Baghdad Arts Academy di Irak dan di F+F Schule für Kunst und Design.

Salah satu topik yang muncul teratur dalam berbagai performans Wathiq dan Ali adalah pentingnya ingatan. Mereka percaya bahwa ingatan tersimpan dalam tubuh dan elemen-elemen masa lampaunya dapat diakses lagi pada masa sekarang. Dengan demikian, gesekan antara versi resmi suatu peristiwa, versinya yang telah termediasi, dan realitas yang dialami manusia menjadi titik perhatian dalam performans mereka. Dalam White Haunting Black, yang ditampilkan pada Art Festival of Spitsbergen (2015), keduanya mengenakan kostum yang kontras, Hitam dan Putih. Walaupun melakukan tindakan di dalam ruang yang sama, mereka sibuk oleh aktivitas yang sejalan tetapi berbeda – Hitam bekerja secara manual, Putih berjalan dan bermain golf – keduanya tidak pernah sampai pada titik temu. Menonton pertunjukan semacam ini, penonton tidak perlu komentar atau penjelasan langsung apa pun; semua orang benar-benar ambil bagian dalam matriks pembagian kerja dan kuasa yang bersifat mengasingkan ini.

Agar dapat bertutur tanpa kata-kata dan mengekspresikan narasi tanpa tindakan, Wathiq dan Ali menggunakan berbagai macam objek. Mereka seringkali memanfaatkan simbol-simbol perang dan damai – helm militer, mawar merah, patung serdadu plastik yang dibakar selama performans, baju pelampung pengungsi, dan berbagai simbol budaya, seperti karpet Irak yang menandai asal mereka. Performans mereka dilakukan di gedung-gedung teater maupun ruang-ruang publik atau bentang alam, seperti bentang alam prasejarah yang tertutup salju pada Art Festival of Spitsbergen – menyediakan panggung yang monumental bagi mereka.

Pada Jakarta Biennale 2017, Wathiq Al-Ameri dan Ali Al-Fatlawi menyajikan sebuah karya berjudul Vanishing Borders or Let’s Talk about the Situation in Iraq (2014). Karya ini merupakan sebuah renungan eksistensialis tentang batas-batas kehidupan dan kematian, dan naluri kehancuran yang memusnahkan semesta unik yang terkandung dalam diri setiap manusia.