Aliansyah Caniago

Aliansyah Caniago

Lahir pada 1987 di Tangerang, Indonesia.

 

Ruang publik bukanlah sesuatu yang baru bagi praktik seni Aliansyah Caniago. Kendati menekuni seni dwimatra di Program Studi Seni Lukis di Institut Teknologi Bandung (ITB) (2006–2011), ia selalu tertarik dengan bentuk-bentuk praktik seni yang berhubungan dengan publik. Sejak 2012 ia mulai menjelajahi seni peformans di ruang publik, berlandaskan kegentingan untuk meleburkan diri ke dalam masalah keseharian publik dan keinginan untuk bekerja dengan komunitas yang lebih luas.

Karya-karyanya menyasar persoalan identitas, ingatan, lingkungan sosial, tradisi, dan modernitas. Ia berganti-ganti menggunakan istilah lanskap dan ruang sosial. Menurut Aliansyah, lanskap tidak dapat dimaknai sebagai panorama atau pemandangan yang statis. Ahli seni lanskap dapat menunjukkan bahwa bentang alam (landscape, landschaft, landscipe) dibentuk oleh dua hal, yakni ‘land’ (tanah) dan ‘skabe’, ‘schaffen’, atau ‘ship’ (kemitraan). Ada unsur manusia dan pembentukan ruang karena kehadiran dan interaksi manusia di dalamnya.

Dalam Jakarta Biennale ini 2017, Aliansyah mengamati drama perubahan cepat di sebuah ruang hunian bernama Kampung Akuarium, Kecamatan Penjaringan, Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Inilah salah satu kawasan pinggiran di Jakarta yang telanjur tumbuh tak terkendali, padat hunian, rutin didera banjir dan bencana kebakaran.

Lanskap sosial yang diamati Aliansyah, sejak 2016, merupakan dampak program penertiban dan relokasi hunian oleh Pemerintah DKI Jakarta. Sejumlah warga yang sudah berpindah ke hunian baru selalu berusaha untuk kembali ke kampung kendati sudah rata dengan tanah. Seakan tak terpisahkan dari relasi timbal-balik dengan “lanskap” lamanya, banyak warga Kampung Akuarium membangun tempat tinggal baru dari puing-puing yang masih ada.

Dengan mengidentifikasikan diri secara simbolis dengan puing-puing kehidupan sosial, Aliansyah berupaya mendekatkan sensibilitasnya pada jejak-jejak lanskap-pertarungan hidup warga kampung. Ia menjuluki seninya sebagai seni kon(tra)septual. Terinspirasi oleh istilah seni konseptual, bagi Aliansyah praktik performansnya justru adalah lawan seni yang (terlampau) konseptual.

Ia memecah bentuk performansnya di dua tempat. Yang pertama adalah menghancurkan puing-puing sisa bangunan di Kampung Akuarium sebagai penanda aktualitas kehadiran seniman. Puing-puing itu akan ditumbuk menjadi isi karung tinju yang dibawanya ke ruang performans di Jakarta Biennale. Inilah lokasi performansnya yang kedua. Karung tinju menjadi sarana bagi publik Biennale untuk terlibat secara fisik sekaligus simbolis merasakan kekerasan dan kegeraman di lanskap sosial.

Sebagai mantan petinju amatir selama beberapa lama di Bandung, Aliansyah terlatih menggunakan gerak-gerik dan potensi kekuatan fisik tubuh untuk berhadapan dengan lawan. Daya tahan tubuh menjadi narasi simbolis untuk membangkitkan kembali ingatan akan ruang sosial yang sarat pertarungan tak kasat mata. Sama halnya dengan kehadiran puing-puing; jejak tak kasat mata di dalam bungkusan sarung tinju.