Arin Rungjang

Arin Rungjang

Arin Rungjang

Lahir di Bangkok, Thailand, pada 1974. Tinggal dan bekerja di Bangkok, Thailand.

 

Perkenalan pertama Arin Rungjang dengan lagu “Bengawan Solo” terjadi saat ia menonton In the Mood for Love yang disutradarai oleh Wong Kar Wai (2000). Lagu itu, yang dibawakan penyanyi Shanghai Rebecca Pan, diciptakan pada 1940 oleh Gesang Martohartono yang berusia 23 tahun. Pada 2000, Arin Rungjang berusia 26 tahun, terbelenggu oleh perasaan sensual sejak kecil terhadap teman sekelasnya – tetapi tetap mencintai kekasihnya saat itu. Kisah asmara dan melankolia itu ia identifikasikan dengan “Bengawan Solo”, tapi dengan rona yang pahit. Pahitnya begitu kuat, menghancurkan tubuh dan jiwanya.

Arin Rungjang kemudian menelusuri asal-usul “Bengawan Solo” dan menemukan bahwa lagu itu adalah tentang sungai bernama Bengawan yang melewati kota Solo. Berkomposisi musik keroncong, yang dipengaruhi budaya Portugal abad XVI, lagu itu sebenarnya menyajikan keindahan Bengawan Solo. Sejak itu, makna “Bengawan Solo” bagi Arin Rungjang mulai berubah.

Berikutnya ia menemukan kisah Anneke Grönloh, seorang penyanyi keturunan Tondano beribu Belanda, yang pada masa kecilnya hidup di kamp konsentrasi Jepang di Hindia Belanda. Anneke kemudian pindah ke Belanda, dan pada 1967 merujuk pada ingatan masa kecilnya dengan menyanyikan “Bengawan Solo”. Semasa ia kecil, “Bengawan Solo” adalah lagu yang sangat populer di kalangan tentara Jepang. Kisah Anneke mengingatkan Arin Rungjang pada Koo Bun Koo Gum, kisah cinta populer di Thailand antara seorang gadis Thailand dengan prajurit Jepang. Cerita ini mewakili kisah-kisah cinta Thailand lain yang tak memiliki akhir. Hanya tersirat di ujung cerita, si prajurit hampir mati kena serangan bom pasukan Amerika Serikat pada Perang Dunia II dan tergeletak sekarat di pangkuan sang gadis.

Selama penindasan komunisme dan orang Tionghoa di Indonesia pada 1965–1966, Bengawan Solo menjadi lokasi pembuangan jenazah orang Tionghoa dan komunis yang dibunuh. Mereka diangkut dengan truk dan dilemparkan ke sungai. Beberapa bulan lalu, Arin Rungjang mengunjungi sungai itu, dan kisah nyatanya menguburkan hasrat romantismenya.

Karya-karya Arin Rungjang terinspirasi oleh situasi kehidupan sehari-hari dan sejarah. Ia menggunakan berbagai media, terutama video dan instalasi yang merujuk pada ruang-ruang khusus (site specific), untuk menyelami sejarah dan kehidupan sehari-hari di sekitarnya. Melalui persilangan waktu dan ruang, karya-karya Arin Rungjang mengajak kita memasuki lapisan-lapisan makna yang berbeda-beda.

Dalam karya video tujuh kanal bertajuk Bengawan Solo ini, Arin Rungjang mengundang Rachel Saraswati untuk membawakan “Bengawan Solo” bersama kelompok keroncongnya. Tampilan masing-masing individu penyanyi dan pemusiknya di setiap layar disejajarkan dengan teks yang mengisahkan pengalaman pribadinya. Arin Rungjang menyiratkan bahwa makna sesuatu yang kita temui bisa berubah drastis, seiring hidup yang terus berjalan dan kisah-kisah yang akan terungkap dalam situasi tak terduga.