Bissu

Komunitas Bissu

Makassar, Indonesia.

 

 

Pada masa pra-Islam, suku Bugis merujuk pada kaum bissu sebagai elemen permanen agama. Bissu dianggap sebagai pendeta Bugis, pemuka adat, dan sosok yang agung sebab mampu mengalami dua alam (alam makhluk dan alam roh) serta memiliki dua gender manusia (perempuan dan lelaki). Peran bissu pada periode pra-Islam sangat penting terutama untuk mendoakan kesuburan padi agar hasil panen baik. Secara umum, bissu berperan sebagai pelaksana ritual budaya. Peran ini terkait mitos penciptaan bissu yang “dianggap sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan kosmis”. Hingga kini peran tersebut masih dijalankan bissu.

Bissu telah dikenal pada abad ke-9 Masehi melalui Sure’ Galigo, manuskrip anonim yang memuat kisah-kisah puitik. Sumber-sumber Portugis yang ditulis pada abad ke-16 menjelaskan identitas bissu sebagai wadam yang biasanya berperilaku homoseksual. Bissu, secara biologis bisa berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Pada umumnya, bissu bergender calabai, yakni secara biologis laki-laki namun melakukan peran dan fungsi perempuan dalam beberapa hal. Identitas gender bissu terbentuk dari aspek spiritualitas dan pemahaman terhadap tubuh.

Bissu hidup dan tinggal di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, salah satunya di Kabupaten Pangkep, sekira 60 km dari kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelum 2011 komunitas bissu tinggal di bola arajang (rumah tempat penyimpanan benda pusaka) di Segeri, Pangkep, bersama pemimpin bissu, Puang Matoa Saidi. Di bawah kepemimpinan Puang Matoa Saidi komunitas bissu dikenal khalayak yang lebih luas. Ia mampu membaca lontara Bugis Kuno dan menjadi penutur kronik Sure’ Galigo.

Para bissu sering diminta untuk melakukan pergelaran Ma’giri’ di peristiwa kesenian dan kebudayaan, pariwisata, hingga acara politik. Pergelaran Ma’giri’ memperlihatkan kekebalan tubuh bissu yang mulanya berfungsi sebagai ritual untuk terhubung dengan dewata. Pergelaran Ma’giri’ kemudian mengalami pergeseran fungsi, tidak lagi sebagai ritual semata namun dijadikan komoditas hiburan dan pariwisata yang mendatangkan nilai ekonomi. Pergeseran fungsi ini mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan pada kehidupan bissu.

Setelah Puang Matoa Saidi meninggal dunia pada 28 Juni 2011, kehidupan komunitas bissu mengalami kemunduran. Komunitas bissu terpecah menjadi kelompok bissu yang dianggap “murni”, yang melaksanakan ritual Ma’palili’ dan Ma’giri’, dan kelompok bissu yang disebut tidak murni sebab telah dilepas ke-bissuannya karena melanggar syarat sebagai bissu atau sebab tidak sepenuhnya memenuhi syarat untuk menjadi bissu.

Bissu Juleha yang ditunjuk menjadi puang matoa menolak dilantik secara resmi. Ia merasa belum siap sebab, bila telah resmi sebagai puang matoa, ia harus tinggal di bola arajang sementara tak ada jaminan dari pemerintah untuk biaya kehidupan sehari-hari. Kini bola arajang kosong tak berpenghuni dan komunitas bissu tak memiliki puang matoa.