Chiharu Shiota

Chiharu Shiota

Chiharu Shiota

Lahir di Osaka, Jepang, pada 1972. Menetap dan bekerja di Berlin, Jerman.

 

Dalam praktik seninya, Chiharu Shiota berusaha “menghubungkan tubuh dengan semesta”. Setelah awalnya ingin menjejaki karier sebagai pelukis, Chiharu mendapati dirinya tak mampu melukis lagi. Baginya melukis tidak lagi bermakna spiritual; hanya menjadi perkara kehadiran fisik cat di atas kanvas. Ini berujung pada sebuah performans di Canberra School of Art, Becoming Painting (1994), di mana ia percikkan pada dinding-dinding galeri dan tubuhnya sendiri cat pernis merah yang mengandung racun – hingga kulitnya terbakar. Performans radikal ini – yang dipahami sebagai simbol pembebasannya – menghubungkan dirinya dengan para pendahulu seperti Hannah Wilke, Gina Pane, Valie Export, dan Marina Abramović. Chiharu pernah menjadi murid mereka pada pertengahan 1990-an di Braunschweig, Jerman. Kini ia juga menyebut Ana Mendieta (1948–1985), dengan karya yang menggabungkan seni tubuh dan seni tanah, sebagai pengaruh besarnya. Walaupun sering berkutat dengan performans, Chiharu justru paling dikenal berkat instalasi berskala besar yang menutupi seluruh galeri dan ruang seni dengan ruang tiga dimensi yang terbuat dari benang. Instalasi pertamanya yang seperti itu, Return to Consciousness (1996), memuat sebuah ampula yang berisi darahnya di jantung jejaring benang. Instalasi ini berfungsi sebagai metafora tubuh, yang hilir-mudik di antara lesu dan hambarnya hidup.

Untuk Jakarta Biennale 2017, Shiota menampilkan video dari tahun 1999 yang dibuat berdasarkan performans berjudul Bathroom. Di dalamnya, Chiharu duduk di bak mandi di dalam kamar mandi yang sesak dan sempit. Ia menuangkan lumpur yang terlihat seperti tinta pada kepalanya. “Aku tidak akan pernah menghapus kenangan yang telah terserap oleh kulitku,” tuturnya tentang performans itu. Tujuannya adalah “menyatu dengan bumi” dalam suatu ritual kepulangan. Filosofi butoh Jepang (“tarian bumi” atau “tarian lumpur”) melandasi banyak karya Chiharu dan menjadi semakin penting dalam Bathroom. Butoh adalah satu di antara ciptaan terpenting kelompok garda depan Jepang pada abad lalu. Para penarinya seringkali menampilkan tarian dalam keadaan telanjang dan tidak menghiraukan indahnya gerakan. Bagi mereka, ekspresi primitif adalah kuncinya. Tanah atau bumi merupakan konsep yang pokok dalam filosofi mereka.

Dalam Bathroom Chiharu, hasrat untuk kembali ke keadaan awal, atau “mencemari” masyarakat yang telah didominasi oleh ritual pemurnian, terlihat jelas. Seiring video diputar, berbagai gambar hitam-putih jarak dekat menampilkan dirinya “mandi”. Ekspresi emosinya terminimalisir. Dengan halus karyanya menyampaikan perasaan putus asa yang nyata. Drama video itu lambat laun berkembang tanpa ada resolusi akhir sementara suasana semakin menakutkan dan mengancam.