Dana Awartani

Dana Awartani

Dana Awartani

Lahir pada 1987 di Jeddah, Arab Saudi, menetap dan bekerja di Arab Saudi.

 

 

Dana Awartani adalah seniman berdarah Palestina-Arab Saudi dan berbasis di Arab Saudi. Ia memelopori penelusuran seni ornamen Islam geometris dalam beragam bentuk. Dana terinspirasi oleh sufisme, filsafat Islam, dan latar belakang budayanya. Dalam satu dekade terakhir, seni kontemporer dan perkembangan museum sedang mengalami kebangkitan di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Dana merupakan satu di antara segelintir seniman perempuan yang tengah menyulut perhatian di kawasan tersebut. Kumpulan karyanya telah dipamerkan dan dipentaskan tidak hanya di Arab Saudi dan negara-negara lain di atas, tetapi juga di Asia dan Eropa. Selain itu, karya-karyanya juga telah menjadi bagian dari koleksi seni Islam di Syekh Zayed National Museum di Abu Dhabi dan British Museum di London.

Untuk Jakarta Biennale 2017, Dana akan memamerkan karya berjudul I went away and forgot you. A while ago I remembered. I remembered I’d forgotten you. I was dreaming. Instalasi ganda ini memperkenalkan karya video pertamanya dan merupakan seruan untuk merayakan keindahan rancangan dan arsitektur tradisional Islam. Unsur pertama karyanya adalah instalasi pasir temporer yang diwarnai tangan dan disusun secara cermat di lokasi pameran selama beberapa hari. Unsur kedua adalah proyeksi film yang memperlihatkan dirinya memakai sapu untuk membersihkan instalasi serupa yang ia ciptakan di dalam sebuah rumah di suatu tempat dan menutupi lantai rumah itu dengan ubin bermotif Islam tradisional yang pernah menjadi sesuatu yang jamak di kebanyakan rumah Arab dan Islam. Simbolisme Dana berlanjut dengan pigmen lokal yang digunakan untuk mewarnai pasirnya hingga rumah yang ia pilih sebagai situs karya, yaitu rumah khas kalangan elit era akhir 1950-an hingga awal 1960-an di Arab Saudi. Pada periode inilah arsitektur tradisional mulai digantikan oleh estetika Eropa demi masyarakat yang lebih “beradab” dan “ maju”, dan pada saat yang sama menghapus jejak identitas budaya mereka. Apa yang terbentang di lantai dan yang diproyeksikan pada dinding muncul sebagai kisah peringatan yang merenungkan dualitas penciptaan dan kehancuran, masa lalu dan masa kini. Sang seniman berupaya menggugah kesadaran tentang pentingnya merayakan dan melestarikan bahasa estetika geometri yang tak lekang waktu sebagai bahasa universal keindahan dan harmoni. Karya ini telah dipamerkan di Jeddah, Torino, dan London tahun ini.