Darlane Litaay

Darlane Litaay

Lahir di Sorong, Indonesia, pada 1984. Tinggal dan bekerja di Jayapura, Indonesia.

Papua Barat dalam tubuh Darlane tidak hanya menjadi inspirasi untuk menyusun gerak koreografis yang berbasis pada kepekaan terhadap lingkungan, tetapi juga sebagai pelatuk bagi bahasa yang bisa mewakili resapan gagasannya di lingkungan hidup kekinian. Gabungan antara kepekaannya terhadap suara, warna, dan nuansa alam, dengan kecermatan mendetail dalam penempatan waktu, memunculkan kekhasan gerak Darlane dalam tarinya.

Daya hadir Darlane tidak terikat pada bentuk gerak semata; energinya juga memunculkan penyatuan pekat antara tubuh dan ruangnya. Selama beberapa tahun tinggal di Yogyakarta untuk belajar di Institut Seni Indonesia (ISI), Darlane menyerap ilmu tari Jawa, yang baginya jadi elemen kontras terhadap dinamika gerak tari Papua. Perpindahan dari Sorong, Papua, ke Yogyakarta, Jawa, itu sendiri bagi Darlane adalah pengaruh besar bagi cara pandangnya. Selain itu, peralihan latarnya dari bidang ilmu elektronik ke bidang tari juga memunculkan proses transisi kreatif yang khas. Proses inilah yang menjadi penting bagi Darlane untuk melihat tema keasingan tubuh dalam ruang sosialnya.

Upaya menggabungkan elemen-elemen tradisi Papua dengan tradisi Jawa dalam metode gerak telah dirintisnya sejak sepuluh tahun terakhir ini. Ia mengujicobakan penggabungan itu dengan kekuatan instingtif, tanpa meninggalkan realitas hidupnya. Banyak unsur visual yang secara sadar ia kontradiksikan dalam penggabungan telak, misalnya rambut kribo Papua dengan sanggul Jawa, atau orang Papua bercaping duduk di tengah sawah, atau bahkan imajinasi sebuah keraton yang didirikan di tengah hutan Papua. Keberadaannya yang cukup lama di Jawa, dan di berbagai residensi pendek di luar negeri, tidak menjauhkan dirinya dari tanah kelahiran tetapi justru membantunya melihat kembali Papua dengan perspektif yang terus-menerus mendekat.

Dalam Rider, Darlane mendapat tantangan untuk merespons Hexentanz II (Witch Dance) karya Mary Wigman, koreografer legendaris dan pelopor tari kontemporer Jerman awal abad XX yang banyak mengamati elemen budaya Timur. Dari imajinasi tentang budaya asing sebagai yang liyan, tatanan gerak yang Mary sajikan sangat asing bagi lingkungan budaya Eropa saat itu. Hexentanz II adalah karyanya yang menyelidiki okultisme dalam kaitannya dengan ritual dan kekuatan sihir. Karya itu menarasikan tubuh yang mengalami kekuatan sihir dengan membiarkan tubuh bergerak tanpa peduli asal-usul geraknya dan secara lebih murni daripada energi pada dirinya saat itu.

Darlane menafsir Hexentanz II melalui studi kesejarahan dengan persepsi baru. Pertama kali disajikan dalam Witch Dance Festival 2016 di Berlin, Rider terkait dengan kekuatan sihir di mana tubuh mendapat kekuatan ekspresi tradisi Papua Barat untuk mengendalikan sihir sehingga menjadi daya magis hibrida dan ramah terhadap kehidupan.