David Gheron Tretiakoff

David Gheron Tretiakoff

David Gheron Tretiakoff

Lahir di Prancis pada 1970. Menetap dan bekerja di Brussel, Belgia.

 

 

David Gheron Tretiakoff adalah seniman visual, editor film, sutradara, dan pelaku seni performans yang berfokus pada perkembangan sosial politik kontemporer. Ia berkutat dengan berbagai persoalan menyangkut persepsi dan identitas negara-negara Islam serta konsekuensi politik dan psikologis terorisme internasional. Pengalaman berkeliling Timur Tengah selama bertahun-tahun memperdalam pemahamannya tentang kehidupan sehari-hari di kawasan itu dan ini terlihat dengan jelas dalam karya-karyanya. Untuk Jakarta Biennale 2017, David Gheron Tretiakoff akan menyajikan sebuah instalasi video terbarunya berjudul Ceremony, yang terdiri atas tiga layar tersinkronisasi. Masing-masing layar menampilkan film berdurasi dua puluh menit yang diputar secara berulang.

Layar pertama Ceremony menyoroti seorang perempuan flamboyan yang menari mengikuti alunan musik Gnawa Maroko di sebuah sudut jalan di Paris. Sejurus kemudian, ia mengalami kesurupan. Ketika ia terhuyung dan ambruk, para pemusik melambaikan salam perpisahan dan pergi. Layar kedua menayangkan pesta di sebuah desa di Siwa Oasis yang ditinggali oleh orang-orang Berber di padang pasir Mesir. Dalam sebuah ritual, sekelompok laki-laki berpartisipasi dalam danse macabre,[1] berupaya menaklukkan seekor banteng ke tanah sebelum salah seorang di antaranya memotong urat leher banteng itu. Perayaan di Siwa Oasis tersebut, yang dikenal sebagai pesta bulan setelah Ramadan, merupakan wujud sinkretisme yang khas dari tempat yang terisolir ini.

Layar di tengah mempertontonkan suasana nokturnal, dilengkapi dengan alunan suara yang berfungsi sebagai lagu pengiring untuk keseluruhan instalasi. Dalam kegelapan, penonton mendadak menyadari adanya seonggok tubuh, kemudian kepala, mulut, dan tenggorokan. Bebunyian mulai terdengar, keras dan menggaung, seolah tercerai dari tubuh empunya yang rapuh. Inilah katajjaq, sebuah praktik suku Inuit dalam melantunkan mantra dari dalam tubuh, yang juga merupakan sebentuk kesurupan. Lembut dan berhawa dunia lain, praktik itu merupakan chant de vie—nyanyian kehidupan—leluhur; kemampuan animis yang bersumber dari pengetahuan suku Inuit. Sebagai musik asal-usul, lagu ini menyatukan kegelapan dan cahaya.

Hilir-mudik di antara yang profan dan suci, Ceremony mengajak khalayak umum untuk turut berpartisipasi dalam sebuah ritual khayali yang asing; upacara yang seperti diingat dari sebuah agama yang terlupakan. Ceremony mengungkapkan dirinya sendiri tanpa wacana sebagai manifestasi kesadaran kolektif global, seolah aspek-aspek tertentu dunia ini tidak dapat dipahami dengan kata-kata atau bahasa, tetapi hanya dengan gerak-isyarat dan teriakan—melalui tubuh. Ceremony menyinggung tragedi yang dialami persisnya oleh para individu dan komunitas yang telah kehilangan hubungan dengan pengetahuan leluhur mereka dan berbagai cara untuk menghadapi dunia sekeliling.

[1] Danse macabre, dari bahasa Prancis, kurang-lebih berarti ‘tarian kematian’, merupakan alegori tentang keniscayaan kematian pada Abad Pertengahan di Eropa. Banyak ditemukan berupa lukisan, mural, dan fresko.