Dineo Seshee Bopape

Dineo Seshee Bopape

Dineo Seshee Bopape

Lahir di Polokwane, Afrika Selatan, pada 1981. Menetap dan bekerja di Johannesburg, Afrika Selatan.

 

 

Dikenal lewat montase video eksperimental dan instalasi pahatan yang pejal, Dineo Seshee Bopape mengundang audiens untuk mendalami aspek-aspek sosiopolitik ingatan, narasi, dan representasi. Dalam karya-karya terbarunya, ia menelisik simbol, narasi, dan ingatan yang tersimpan dalam bumi, dalam hubungan manusia dengan daratan dan tanah, dan dalam sudut pandang (budaya) yang digunakan untuk memahami seni tanah. Karya terbarunya mengingatkan kita akan New York Earth Room karya Walter de Maria dan kuil-kuil suku Maya.

Kerap menggunakan batu bata yang terbuat dari lumpur, potongan tanah liat yang dibentuk dengan kepalan tangan, struktur tanah dipadatkan – yang diperoleh dari daerah setempat – yang mengisi seluruh ruangan, serta bulu, lembaran emas, dan ramuan obat, Dineo menegaskan bahwa tanah adalah materi yang menyimpan ingatan dan sejarah: aspek-aspek metafisik, spiritual, dan budaya bumi yang dalam beberapa cerita diklaim sebagai asal-usul kehidupan. Di luar kebendaan murni, bumi menunjukkan berbagai proses budidaya, perubahan klaim kepemilikan, dan sumber daya geologi. Dineo menghubungkan berbagai karakteristik tersebut dengan isu kedaulatan, nilai estetik diaspora Afrika, praktik-praktik spiritual dan budaya, serta ritual dan permainan tertentu.

Sejak 2012 Dineo tertarik mengamati api sebagai daya hidup dalam setiap revolusi sejak awal sejarah umat manusia. Untuk Jakarta Biennale 2017, Bopape akan membuat sebuah instalasi yang mengingatkan kembali akan peran penting Upacara Bois Caïman pada awal revolusi Haiti 1791 ketika para budak menyatakan bahwa “berdasarkan aba-aba yang diberikan, perkebunan-perkebunan ini akan disulut api secara sistematis dan sebuah pemerontakan budak yang luas akan dimulai.”; api Marie-Joseph Angelique, seorang budak perempuan di Montreal lama yang menyulut api yang membakar kota dalam upayanya kabur bersama kekasih; api yang dijumpai Musa di Gunung Sinai saat Tuhan mendaku, “Aku ada sehingga menjadi aku.”; dan mungkin setiap api lain di pusat setiap cerita yang pernah dituturkan.

Bopape akan membangun kuil atau tempat suci lain dari bata-bata lumpur dan menjaga api kecil terus menyala sebagai sebuah meditasi di tengah pemberontakan yang tak terhindarkan dalam jiwa manusia. Instalasinya menyejajarkan pembebasan politik sebidang tanah dengan pembebasan spiritual melalui kobaran pemberontakan yang paripurna dan cara-cara biologis yang disediakan bumi untuk menyatukan tubuh dan jiwa.