Dolorosa Sinaga

Dolorosa Sinaga

Lahir di Sibolga, Indonesia, pada 1952. Tinggal dan bekerja di Jakarta, Indonesia.

 

 

Dolorosa Sinaga belajar seni rupa di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1971–1977)—kini Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada 1980 ia memperoleh beasiswa pascasarjana dari British Council untuk belajar seni patung di St. Martin’s School of Art. Selanjutnya, ia memperoleh kesempatan mendalami berbagai aspek seni patung di San Francisco Art Institute, Sonoma State University, dan Maryland University. Pameran tunggal pertama Dolorosa bertajuk “Have You Seen a Sculpture from the Body” diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2001).

Perupa ini memiliki sensibilitas kuat terhadap patung figur, yang berkembang melalui studi atas struktur anatomi tubuh manusia yang dilihat dari bentuk luar (sosok tubuh) ke dalam (jejaring otot) dan sebaliknya dari dalam ke luar. Pemahaman itu adalah landasan utama penciptaan mikrogestur patung-patung Dolorosa. Menggubah figur, baginya, adalah menghidupkan emosi manusiawi melalui segumpal materi pejal patung, bahkan menggali passion atau pathos-nya yang meledak ke luar dari susunan tulang dan gumpalan daging. Tak heran jika ia menjadi perintis dalam perkembangan seni patung modern di Indonesia yang menekankan gestur ekspresif bahasa tubuh manusia sebagai ungkapan emotif mendalam.

Pada Jakarta Biennale, Dolorosa menampilkan sejumlah patung figur Sukarno dalam ukuran manusia. Tidak seperti monumen-monumen yang umumnya menampilkan Sukarno dengan pose yang lebih tenang, Dolorosa justru menghadirkan gestur-gestur dinamis tokoh proklamator ini sepanjang karier politiknya. Ia mengidentifikasi beberapa monumen di Jakarta era Sukarno sebagai penanda gestur khas milik sang presiden pertama, misalnya patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia (1962) dan monumen Pembebasan Irian Barat (1963). Gestur khas Sukarno menggelorakan semangat dan mengandung spirit menjebol atau “revolusioner”.

Melalui ketertarikannya pada pose, makna, dan kedinamisan gestur Sukarno, Dolorosa mempersembahkan sebuah panggung bagi tokoh ini, sebagai ingatan sosial atau memori sejarah. Gestur khas Sukarno lahir saat berorasi, tatkala berpose di depan koleksi seninya, dalam suasana khidmat religius, dan pada monumentalitas sejumlah karyanya. Bagi Dolorosa, secara simbolis gestur-gestur historis Sukarno dibutuhkan untuk menemukan lagi jiwa merdeka tokoh ini; inspirasi yang tak lekang bagi bangsanya.

Representasi Dolorosa dalam Jakarta Biennale juga muncul melalui panggung totalitas proses kerjanya selama ini. Pergulatan estetik, kekhasan, dan kekritisan tema-tema perempuan dan komitmen sosialnya telah menandai perjalanannya yang signifikan sebagai pematung. Berbagai studi artistiknya yang mendalam mengenai penggunaan material lilin, kertas, tanah liat, dan plastik, juga rancangannya untuk karya-karya seni di ruang publik, bisa kita saksikan di studionya. Representasi perjalanan karya Dolorosa ini disajikan dengan memindahkan seluruh isi Studio Somalaing, tempatnya bekerja di Pondok Gede, Jakarta Timur, ke ruang pameran Jakarta Biennale di Gudang Sarinah Ekosistem.