Dwi Putro Mulyono (Pak Wi)

Dwi Putro Mulyono (Pak Wi)

Dwi Putro Mulyono alias Pak Wi

Lahir di Yogyakarta, Indonesia, pada 1963. Menetap di Yogyakarta, Indonesia.

 

 

Pencitraan Pak Wi persisnya bukanlah gambar yang teridentifikasi dengan baik, melainkan lebih merupakan hasil obsesi kompulsif. Pak Wi tidak menciptakan representasinya; ia meminjam representasi, atau lebih tepatnya, meminjam citra yang ia garap ulang secara khas hingga membangkitkan intensitas baru. Jika ia merepresentasikan gambar Bunda Maria, misalnya, Pak Wi tidak tahu apa yang harus disimbolkan oleh representasi Bunda Maria itu. Ia hanya “tahu”, secara intuitif, bahwa representasi Bunda Maria memiliki makna. Dan kesan itulah yang diterjemahkan karya-karyanya dalam tampilan menghantui, ikon-ikon disederhanakan, dan, lebih dari segalanya, warna-warna mencolok. Yang paling menonjol dari karya Pak Wi adalah gambar mata yang hampa dari segala cerlang, terpaku, memancarkan gelap yang dalam—seolah lukisan adalah cara untuk meredakan kekerasan yang terpendam.

Dwi Putro Mulyono, akrab disebut Pak Wi, terlahir dalam keluarga Katolik Jawa di Dukuh, Gedongkiwo, Yogyakarta. Sebagai anak kedua tertua dari 10 bersaudara, Pak Wi lahir prematur; inilah sumber spekulasi tentang asal-usul gangguan skizofrenianya. Walaupun begitu, selama kanak-kanak, Pak Wi tidak menunjukkan gejala gangguan kejiwaan apa pun, kecuali bahwa ia lebih menyukai kebersihan, lebih disiplin, dan cenderung membuat permintaan yang harus dituruti, yakni harus duduk di kursi yang sama, minum dari gelas yang sama, dan menyimpan pakaian di dalam lemari yang sama. Selebihnya, Pak Wi sama seperti anak kebanyakan; senang menggambar di atas kertas dan mengendarai sepeda.

Namun, menginjak 10 tahun, Pak Wi tidak berhasil naik kelas dari kelas tiga sekolah dasar. Menutup diri dari lingkungan sekitar, ia mulai menderita gangguan pendengaran dan wicara. Dipindah ke sekolah luar biasa, kondisinya kian memburuk, terutama setelah cintanya ditolak oleh seorang gadis Sunda. Pak Wi berhenti sekolah. Saat itu ia sudah kerap mengalami ledakan emosi dan menutup diri. Baru pada usianya yang ke-18, orangtuanya membawanya menemui psikiater, yang mengeluarkan diagnosis skizofrenia. Ketika tidak sedang bermain dengan sepedanya mengelilingi kampung, Pak Wi akan tinggal di rumah, terpaku memperhatikan gambar-gambar, atau memarahi adiknya. Pak Wi juga sering menghabiskan waktu menonton wayang di Semail, Bangunharjo.

Setelah orangtuanya meninggal pada 1996 dan 1997, Pak Wi berkeluyur di jalanan Yogyakarta, bertahan hidup dari puntung-puntung rokok yang ia jumput di sisi jalan. Adik laki-lakinya, Nawa Tunggal, tak sampai hati melihat kondisinya dan memutuskan untuk membantu. Ia beri Pak Wi, pertama-tama, kertas, kemudian kanvas dan pewarna. Ia berhasil.

Sampai sekarang, Pak Wi telah menghasilkan ribuan lukisan, dan terus menghasilkan yang baru setiap hari. Nawa Tunggal memasok foto-foto dasar; dari foto-foto tersebut, Pak Wi akan mengambil satu atau dua karakter. Kemudian Pak Wi mengubah gambar pinjaman ini menjadi kontur-kontur sederhana dari sosok-sosok sama yang dihantui dan menghantui; mata tajam yang menyorot, garis pinggir yang gelap dan tebal—selalu mata yang sama, dengan iris pada posisi terpaku.

Pak Wi juga membuat lukisan persegi kecil. Nawa Tunggal memasang-masangnya dalam satuan yang terdiri atas 25 lukisan potret atau lebih yang berukuran sama. Baris demi baris mata yang terpaku menonjol dari wajah-wajah berwarna mentah dan berkontur gelap. Dalam pengulangan garis kontur yang sama ini, penuh oleh tipe warna mentah yang sama dari mana mata yang sama terlihat menonjol, apa yang kita tangkap adalah kesunyian dramatis laki-laki itu.