Garin Nugroho

Garin Nugroho

Lahir di Yogyakarta, Indonesia, pada 1961.

 

 

Garin Nugroho adalah sineas terkemuka dalam gelombang perfilman 1990-an di Indonesia dan salah satu yang terdepan membebaskan diri dari regulasi perfilman masa Orde Baru. Ia belajar sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) (1981–1985) dan secara tak langsung pada sutradara legendaris Indonesia, Teguh Karya (1937–2001). Film-film awalnya, seperti Cinta dalam Sepotong Roti (1991), Surat untuk Bidadari (1994), dan Bulan Tertusuk Ilalang (1995), menempatkannya sebagai sutradara pertama Indonesia yang merebut perhatian sungguh-sungguh dalam kancah festival film internasional. Pada 1992, ia memperoleh gelar “Best Young Director” dalam Asia Pacific Film Festival di Seoul. Karya mutakhirnya, Setan Jawa – sebuah film bisu hitam putih dengan orkestra kerawitan Jawa – diputar di International Gamelan Festival, London dan Glasgow (2017).

Dalam Jakarta Biennale 2017, Garin Nugroho secara khusus membuat film esai untuk mengenang kiprah seniman Hendrawan Riyanto (1959–2004), kakak kandungnya. Pada tahun-tahun terakhir hidup sang abang, Garin merasakan hadirnya kedekatan yang lebih. Dialog mereka dipicu oleh kecenderungan Hendrawan pada wacana dan praktik budaya sinkretik dan arkaik di Jawa. Bagi Hendrawan, arah itu akan membuka jalan baru bagi pencariannya di dunia seni kontemporer. Kecenderungan itu diamati oleh Garin, termasuk perubahan perilaku – mengarah ke kondisi kesurupan – yang sempat menjadi keprihatinan ibunda mereka.

Percakapan kritis antar keduanya kerapkali membuahkan sejumlah corat-coret studi karya oleh Hendrawan. Merasakan energi kreatif baru, sang sineas menyimpan empat album catatan dan gambar Hendrawan yang sebagian dipamerkan dalam Jakarta Biennale 2017.

Film esai Garin menyusuri muasal pencarian Hendrawan dari rumah joglo tempat tinggal keluarga di Yogyakarta. Bagi Garin, rumah Jawa ini adalah titik hubung antara pikiran-pikiran akademik Hendrawan dan pergulatannya mencari “rasa” dalam budaya sinkretik Jawa. Dalam kebudayaan Jawa, manusia berada di antara jagat besar dan jagat kecil. “Pusat” bukanlah alam pikir logis rasional, melainkan bisa berarti “tali pusar” yang menghubungkan tiap manusia dengan ibu, sekaligus menggambarkan “dunia bawah” dan “dunia atas”.

Perhatian Garin yang lain adalah Desa Pagerjurang di Klaten, Jawa Tengah. Hendrawan menemukan elan-hidup kesenimanannya di tempat ini ketika bersama Profesor Chitaru Kawasaki – pengajar di Kyoto Sheika University, Jepang – menghidupkan kembali tradisi pembuatan gerabah. Bagi Garin, desa gerabah ini telah mengembalikan Hendrawan sebagai subjek-Jawa dan seniman keramik yang menyadari kembali dimensi-dimensi magis, mistis, dan olah rasa dalam praktik seninya.

“Film ini bukanlah biografi, melainkan sebuah ruang terbuka untuk menangkap sosok Hendrawan dan karyanya. Seperti memasuki rumah masa kecilnya, Desa Bayat, gambar-gambar serta karya instalasi keramiknya adalah ruang bebas untuk memperoleh jiwa, bahkan di dalam retakan-retakan tanah pada karyanya.” kata Garin.