Gede Mahendra Yasa

Gede Mahendra Yasa

Gede Mahendra Yasa

Lahir di Bali, Indonesia, pada 1967. Tinggal di Bali, Indonesia.

 

 

Gede Mahendra Yasa selalu bersikap kritis terhadap konvensi-konvensi praktik seni rupa. Ia mempertanyakan konstruksi identitas yang sering diusung dengan mengatasnamakan, dan seringkali mengesensialkan, tradisi. Citra-citra dari khazanah kebudayaan Bali, misalnya, diadopsi oleh banyak seniman setempat dan sejak dekade 1970-an menjadi identitas visual dalam praktik seni modern. Identitas terkurung dalam kerangkeng warisan budaya yang dibekukan.

Sikap kritis terhadap hegemoni praktik seni ditunjukkan oleh Hendra dan beberapa seniman muda melalui gerakan “Mendobrak Hegemoni” (2001). Identitas seni rupa yang diklaim sebagai representasi esensialisme spirit budaya Bali—disebut “taksu”—adalah komersialisasi budaya Bali dalam bentuk lain. Konstruksi itu dibangun oleh seniman, galeri, dan art-dealer yang menguasai medan dan institusi seni rupa. Kritik-kritik ini melahirkan gejala baru melalui wacana “post-Bali”.

Bagi Mahendra Yasa, gagasan mengenai subjektivitas dalam seni adalah gejala yang bisa diobjektivasi. Kutub subjektivisme yang menjadi andalan dalam praktik seni, yang melahirkan jawara-jawara dalam seni rupa, bukanlah sesuatu yang absolut. Sejauh gagasan itu menjadi gejala visual, gagasan subjektif adalah gejala fiksi. Karya apropriasi Hendra terhadap lukisan-lukisan Barat yang diklaim sebagai “universal” merupakan strategi yang disebutnya sebagai “mutasi transgenik”. Istilah ini menunjuk pada perubahan yang dikerjakan secara sadar untuk mengubah atau membelokkan rancang kehidupan, atau jalur genetika, yang telah melahirkan karya-karya “universal”. Dengan kata lain, praktik seni Mahendra Yasa selama ini adalah representasi atas representasi. “Orisinalitas”-nya tidak terletak pada temuan bahasa, pokok masalah, atau model berkarya yang baru, tetapi cara mempersoalkan apa yang disebut sebagai “orisinalitas” itu.

Pada Jakarta Biennale 2017, Mahendra Yasa menampilkan sejumlah lukisan terbarunya, dengan citra-citra “orisinal” yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Sifat-sifat analitis, logis, apropriatif yang selama ini menjadi ciri utama karyanya ditinggalkan. Ia melakukan percobaan dengan medium baru, yaitu encaustic painting. Encaustic adalah olahan campuran antara lilin lebah, getah damar, dan tempera, dan disebut sebagai salah satu medium melukis tertua. Bahan itu ditemukan pada peti-peti jenazah atau mumi dari panel-panel kayu dari abad 1 SM sampai abad 3 Masehi pada era Kristen Koptik di Mesir. Penggunaan encaustic, bagi Mahendra Yasa, sarat metafora dan asosiasi. Pemilihan materi untuk lukisan-lukisan itu dilatari oleh posisi politik. Pengusiran orang-orang Kristen Koptik oleh kelompok fundamentalis dan klaim-klaim kemutlakan atas nama agama tertentu dengan label Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mesti ditolak. Pada titik inilah pemilihan medium seni menjadi sebentuk perlawanan.

Bentuk-bentuk nonfiguratif yang kini dijelajahi Mahendra Yasa melalui wahana encaustic adalah seni yang personal. Namun, yang personal ini tak perlu didaku dengan klaim-klaim universal seperti pada masa lalu. Seni nonfiguratif adalah transendensi spiritual pada basis yang personal.