Hanafi

Hanafi

Lahir di Purworejo, Indonesia, pada 1960. Kini menetap dan berkarya di Depok, Indonesia.

 

 

Hanafi adalah perupa yang terbentuk dalam lingkungan seni yang majemuk. Ia terbiasa membayangkan hubungan antara kata dan rupa, antara makna semantik dan kehadiran nyata benda. Baginya, kata-kata dan bahasa pada puisi sering terasa ajaib. Apa persisnya hubungan antara nama benda dan benda itu sendiri? Apa yang dibayangkan oleh penyair ketika membangun diksi dan menghadirkan makna dalam bahasa puitis mereka? Apakah benda-benda memiliki semacam puitika atau bahasa?

Selama ini Hanafi dikenal dengan lukisan-lukisan abstraknya. Ia meratakan warna pada bidang datar kanvasnya dengan rol ketimbang sapuan kuas yang lebih mengandung emosi. Tidak ada identitas budaya apa pun pada karyanya, kecuali “identitas” jejak rol dan warna rata pada kanvas. Namun, hal itu bukanlah sesuatu yang sepenuhnya antifigurasi.

Walaupun terbebas dari khazanah simbol, emosi, maupun figurasi, bidang datarnya melahirkan “figur” melalui kehadiran kata-kata. Di titik ini Hanafi melakukan subversi kata-kata—wahana para penyair—ke dalam seni rupanya. Rupa atau objek tertentu bisa lahir dari khazanah puisi, yakni sebagai konkretisasi. Sebaliknya, benda-benda beroleh “maknanya” melalui relasi puitik kata-kata, sebagai abstraksi.

Proyek Hanafi untuk Jakarta Biennale 2017 adalah representasi ingatannya mengenai bahasa, bertajuk Perkenalan Pertama dengan Bahasa. “Setelah bahasa ibu, berbagai bahasa datang kepadaku, dalam bentuk dan rupa,” tulis Hanafi. Tak hanya sebagai bunyi tetapi juga imaji rupa. Bahasa-bahasa itu datang dan menggugah kepekaan artistik. Kata Hanafi, bahasa menghadap-hadapkan tubuh pada “dunia”.

Objek pensil adalah sarananya yang paling awal untuk menuliskan bahasa ibu, sebelum ia mengenal bahasa lain, yakni bahasa rupa. Namun, apa yang ditulis oleh pensil tak hanya yang tertuang pada kertas, tetapi juga yang tergores di udara oleh pangkal pensil. Tindakan menulis di ruang kosong—yang abstrak ini—bagi Hanafi tetap bermakna sebagai “bahasa”. Bahasa kini dituliskan kembali melalui performans oleh penonton dengan mengenakan jas dan mantel yang dirancang khusus—yang bisa menjadi alusi akan panah-panah yang menancap pada tubuh Bisma dalam lakon Baratayuda. Inilah peluang bahasa bagi perupa untuk merelasikan apa yang tertulis dan tak tertulis. Perkenalan Pertama dengan Bahasa adalah puitika untuk mengenang kembali rupa bahasa melalui laku performatif tubuh.

Hanafi belajar seni rupa di Yogyakarta (1976–1979) dan pindah ke Jakarta pada awal 1990-an untuk mengembangkan kesenimanannya. Baginya, kesenimanan adalah sebuah jembatan taksa antara “berkarya” dan “bekerja”. Ia telah berpameran tunggal sejak awal 1990-an, baik di Indonesia maupun di sejumlah negara manca (Singapura, Malaysia, Hongkong, Cina, Yunani, Spanyol, dan Kanada). Yang terakhir adalah “Pintu Belakang/Derau Jawa”, berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2016.