Hendrawan Riyanto

Hendrawan Riyanto

Hendrawan Riyanto

Lahir di Yogyakarta, Indonesia, pada 1959. Meninggal di Semarang, Indonesia, pada 2004.

 

 

Hendrawan Riyanto adalah seniman keramik yang memperoleh perhatian khusus dalam Jakarta Biennale 2017 untuk bagian “Menimbang Kembali Sejarah”. Bagian ini menampilkan baik karya maupun arsip seniman yang dianggap memberi kontribusi khas dalam dunia seni rupa di Indonesia. Jejak-jejak dan gaungnya melampaui rentang kehidupan sang seniman.

Hendrawan mendalami seni keramik di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian berturut-turut di Tajimi-Nagoya, Kyoto Sheika University (berguru dari ahli keramik Jepang, Profesor Chitaru Kawasaki), dan Shigaraki, Jepang.

Bagi Hendrawan, tidak ada materi berkarya seni yang lebih mendasar dibandingkan tanah liat. Praktik seninya ibarat membuka sebuah kitab sains yang mahaluas. Ia menemukan di dalamnya pengetahuan perihal “api”, “udara”, “air”, dan “bumi”. Rita Widagdo, seniman senior dan pengampu seni patung di ITB mengamati, proses kreatif Hendrawan memiliki wajah ganda. Ada gairah terhadap penjelajahan di tahap material—yakni lempung—sekaligus antusiasme untuk mengekspresikan gagasan-gagasan pribadi. Keduanya tidak bisa dipertukarkan begitu saja; tidak bisa ditetapkan yang mana yang muncul terlebih dulu. Pengamatannya terhadap sifat tertentu material sejajar dengan kepekaannya terhadap kondisi kemanusiaan di sekitarnya. Pada titik inilah, Hendrawan muda tidak lagi bisa bersandar pada kreasi-kreasi artistik seniman sebelumnya. Ia tidak punya pendahulu di ranah keramik yang khas ini.

Bagi Hendrawan, segumpal lempung mengandung kapasitas luwes untuk berubah atau diubah menjadi bentuk yang mempribadi. Materi tanah liat memiliki vitalitas hidup. Vitalitas inilah yang menggerakkan semua makhluk sehingga lempung bukan sekadar objek melainkan subjek. Manusia mesti mencintai subjek natural ini karena suatu ketika pada masa depan mereka pun akan kembali menjadi tanah.

Sebagai cabang seni yang kerapkali dikategorikan sebagai kriya-kerajinan (craft), seni keramik dianggap lebih rendah daripada seni murni atau Seni (fine arts atau Art). Pembedaan ini bertumpu pada pandangan ontologis dalam sejarah seni yang panjang. Diakui atau tidak, itulah situasi yang lebih-kurang juga dihadapi oleh para seniman di ranah ini, termasuk Hendrawan. Namun, Hendrawan justru melihat sebaliknya: spektrum luas dan keluwesan materi tanah liat tak tertandingi sehingga mampu mendobrak batas-batas kategori hierarkis dalam ranah seni rupa.

Dengan kesadaran yang lebih mendalam, Hendrawan mengaitkan praktik seni keramiknya dengan khazanah budaya dan muatan spiritual Indonesia pramodern yang sinkretis. Dalam budaya ini, subjek penahu (knowing subject) menjadikan realitas kesadarannya sebagai objek di luar dirinya. Pola hubungan dengan alam tidak melulu rasional, tapi melalui penghayatan rasa. Pada saat itu, subjek merasakan diri sebagai objek. Distansi subjek-objek pun ditinggalkan, digantikan oleh konsep integrasi dan partisipasi. Dimensi rasa itulah yang dikaji dan dihayati oleh Hendrawan dalam praktik budaya di Tanah Air, secara khusus budaya Jawa. Ketika ia menghidupkan tradisi pembuatan gerabah di Desa Pagerjurang, Bayat, Klaten, di Jawa Tengah bersama Profesor Chitaru Kawasaki beberapa tahun yang lalu, ia merasa sudah menemukan elan-hidup kesenimanannya di tempat ini.

Seperti beberapa seniman garda depan di Indonesia yang lain, Hendrawan menyadari bahwa dirinya ada di antara dua entitas kebudayaan sekaligus, kebudayaan nalar dan kebudayaan intuisi. Yang pertama melahirkan modernitas dengan semua nilai kebaruan atau kebisingan progresnya, yang kedua menjadi tilas atau warisan budaya lama kita yang lebih “dingin”. Sebagai seniman yang hidup pada masa kini, ia meyakini berada di titik yang berjarak sama di antara keduanya. Yang pertama didasari sepenuhnya oleh kesadaran subjek otonom yang memandang ke depan, bahkan subjek sebagai pusat, totalitas, dan ukuran (subjectum). Modernitas ini melahirkan otonomi dan kebebasan individu yang sekuler, tapi bagi Hendrawan subjek perlu juga ditelusuri asal-usulnya, karena posisinya “subjected”, yakni berada di bawah kedaulatan tertentu.

Pada titik inilah Hendrawan berupaya melacak kembali ruang mitos dalam masyarakat—khususnya Jawa—yang disebutnya “arkaik”, yakni “ruang asal-mula” sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat peladang dan petani. Ruang itu tentu saja bukanlah ruang sekuler, melainkan merujuk pada realitas transenden, yang disebut Hendrawan dengan istilah-istilah “roh”, “Tuhan”, “ning” atau “hening”. Perkembangan karyanya kemudian berfokus pada upaya merepresentasikan “hening” atau “ning” ini sebagai wacana tanding terhadap kebisingan dunia modern yang juga dialaminya.

Pada persimpangan ini, Hendrawan mulai melacak dan mengenali kembali realitas di sekitarnya yang mengandung jejak-jejak religiusitas atau kesakralan. Kesakralan ada pada materi, tanah, tetumbuhan, benda-benda mati, dan tentu saja manusia itu sendiri. Ia pun menjelma sebagai “homo religiosus”—dalam istilah Mircea Eliade. Ia melihat realitas masyarakat arkaik masih hadir di sekitarnya; masyarakat yang tetap menyimpan “mitos-mitos kosmogonis” dan “mitos-mitos asal-usul”. Dalam pandangan ini, subjek menjadi subjek yang diam, bukan lagi berstatus sebagai “subjectum”, tapi “subjectus”—yang lebih terbuka dan bisa “tunduk” oleh objek. Sebagai “subjectus”, praktik karya seni Hendrawan melalui medium tanah atau keramik dan performans terutama mau menghadirkan situasi yang “sumeleh”. Menjadi “sumeleh” artinya terbuka pada pengalaman keheningan, saat-saat diam; yang ada tak lain adalah “ning” atau hening. Tujuannya adalah untuk menemukan “rasa sejati”, yakni kesadaran mistik akan kehidupan. Inilah yang tampak pada bentuk-bentuk dasar dalam presentasi instalasinya, yang jamak menggunakan berbagai materi setempat dan “hidup”. Kita melihat pluralitas medium yang dihadirkan pada karya-karyanya melalui yang dasar itu, yakni tanah, kayu, bambu, sirih, batu, api, sampai darah sapi.

Praktik performansnya yang mulai gencar pada sekitar 2002 mengingatkan pada perilaku mistik dalam masyarakat “arkaik”. Mungkin serupa dengan apa yang disebut Paul Stange, seorang ahli antropologi yang mendalami praktik kebudayaan-kebatinan Jawa, sebagai “sujud-sumarah”, yakni keterbukaan meditatif pada roh, bukan pada ego. Itulah perilaku mistik kebudayaan petani dan peladang yang dikaji oleh Hendrawan.

Makin teguh dengan pilihannya pada praktik performans, Hendrawan kemudian meluaskan praktik seni lempungnya sebagai konfigurasi objek-objek instalasi yang bercampur. Potensi artistik material tanah liat—bentuk, warna, barik, kealamiahan, proses pembakaran—memperoleh makna dan praktik baru. Teknik dan peranti seni keramik di tangannya memunculkan peluang-peluang tak terduga. Perwujudan performans Hendrawan pun melangkah ke praktik “upacara”; “performans” pada era pascamodern.

Wujud-wujud simbolis seperti mandala, rerajah, atau sesajen; materi-materi lokal seperti bambu, gerabah, kayu, tanah, batu, sirih, kelapa, daun pisang, dan darah sapi; semua menjadi elemen-elemen ritus-performansnya untuk berhubungan kembali dengan dunia lama, yakni budaya masyarakat petani dan peladang. Bagi mereka, realitas transenden dan yang indrawi adalah pasangan selaras. Bagi Hendrawan pun demikian, keduanya bukanlah oposisi, melainkan dwi-tunggal. Karya-karyanya, semisal Makan Malam Bersama Sri (performans, 2001), Mandala Peteng (instalasi, 2002), Inisiasi (performans, 2002), Hati Batu… Hati Batu… Hati Batu… Hati Batu… (instalasi, 2003), dan Ning... (2004) menunjukkan arah untuk menemukan vitalitas kehidupan dalam ranah budaya yang khas.

Hendrawan sendiri menulis:

Ada yang melihat/ lalu berbuat, dan baru mendengar…// Ada yang lebih dulu/ berbuat, supaya terlihat dan harus didengar…// Ada yang mendengar,/ lalu berbuat/ dan jadi terlihat// (Brosur pameran “Naliko Ning Semeleh… /Ketika Hening Diletakkan...” 2004)

Pada praktik performansnya, situasi “ning” atau “hening” merupakan situasi yang melibatkan kepekaan pendengaran ketimbang penglihatan. Situasi ini baginya mendekatkan kita pada rasa-merasa yang lebih hakiki ketimbang gagasan mengenai visualitas bentuk. Vitalitas kehidupan yang mula-mula ditemukannya pada segumpal lempung kini mengembara ke arah pencarian seniman akan “rasa sejati”, yakni kesadaran mistik yang ada pada seluruh kehidupan.

Melalui terobosan bentuk karya dan praktik seninya, Hendrawan Riyanto membuka jalan bagi pengucapan baru dalam seni rupa Indonesia. Ia mengarahkan kembali pandangan kreatif dan menimba inspirasinya dari sumber-sumber tradisi dan kebudayaan kebatinan Jawa yang bertumpu pada rasa. Melalui praktik seni keramik ia melakukan pembaruan yang sekaligus mengukuhkannya sebagai bagian dari praktik seni kontemporer.