Ho Rui An

Ho Rui An

Ho Rui An

Lahir di Singapura pada 1990. Tinggal dan bekerja di New York, Amerika Serikat, dan Singapura.

 

 

Ho Rui An adalah seniman dan penulis yang bekerja dalam irisan seni kontemporer, film, performans, dan teori. Ia menulis, bicara, dan berpikir melalui citraan; menelusuri lokasi kemunculan, penyebaran, dan kemusnahan citraan dalam konteks globalisasi dan kepemerintahan.

Ho Rui An telah menyempurnakan rumpun penataran-performans, sebuah ragam yang menggunakan beraneka rupa karakter atau elemen sebagai perspektif untuk mendekati berbagai tema. Karya performansnya yang menarik banyak perhatian adalah ketika ia menapis arsip sejarah dan budaya visual kontemporer untuk membongkar pergeseran hubungan antara citraan dan kuasa. Penelitian terakhirnya menelaah pertanyaan tentang keramahan liberal, demokrasi partisipatoris, dan masa depan spekulatif.

Pada Jakarta Biennale 2017, Ho Rui An menampilkan Solar: A Meltdown, sebuah penataran-performans yang berangkat dari punggung antropologis Charles le Roux, yang basah oleh keringat, yang ditemuinya di Tropenmuseum, Amsterdam. Air muka ideal sang pejabat kolonial memancarkan sosok putih tanpa cela, berjejak jumawa, tak tersentuh oleh iklim. Melalui citraan aneh di Tropenmuseum ini, Ho Rui An melancarkan sebuah penelitian untuk mendekati kaum terjajah atau kisah-kisah “Imperium” yang cenderung membosankan dan, yang lebih penting lagi, panas terik matahari di baliknya yang membakar punggung penjajah imperial. Mengamati bagaimana “ketaksadaran solar” membuat lelah proyek kolonial Eropa, penataran ini kemudian melihat perempuan kulit putih dan punkawallah (tukang kipas raja-raja) sebagai perlambangan “abdi global” – ruangan tata surya berpenyejuk segala ada. Berpilin menuju momen kehancuran bumi kontemporer ini, akhirnya karya itu berupaya mendaku keringat sebagai sarana pembebasan dari diri sendiri dan bersatu dengan surya.

Dalam karya ini, Ho Rui An menghubungkan berbagai galur pemikiran tentang kolonialisme dan globalisasi dalam sebuah penataran-performans dengan mengerahkan citraan dari koleksi museum atau film-film Hollywood, seperti The King and I yang keluar tahun 1956. Dalam drama musikal tersebut, seorang guru dari Inggris, Anna, “mendidik” keluarga Raja Mongkut di Bangkok. Menurut Ho Rui An, salah satu lagu paling gampang diingat dari film tersebut, Getting to Know You, adalah pujian terhadap pertukaran antarbudaya. Ketika anak-anak kecil Thailand meniru cara berpakaian gurunya, Anna melambaikan kipas. Mereka membungkuk hormat dan berjabat tangan. Kelihatannya semua menyenangkan, tetapi, tentu saja semua atas perintah sang guru dan hantu penjajahan kembali muncul.