I Made Djirna

I Made Djirna

Made Djirna

Lahir pada 1957 di Bali, Indonesia; tinggal dan bekerja di Bali, Indonesia.

 

 

Bagi Made Djirna, membuat karya seni adalah bermain-main dengan benda-benda di alam. Benda-benda itu layaknya makhluk hidup, menempuh berbagai tahapan seperti manusia: ada, berproses di dalam waktu, dan kelak tiada.

Djirna adalah pemulung jiwa purba benda-benda di alam. Ia mengumpulkan benda-benda alam yang terserak di sepanjang jalan, sungai, dan pantai. Dalam khazanah kebudayaan dan spiritual Hindu-Bali, pengakuan akan jiwa purba pada benda-benda adalah kesadaran akan hadirnya yang niskala. Yang niskala tidak kasat mata dan memiliki dimensi mitis-mitologis, di seberang sekala yang terbatas. Kesadaran Djirna ketika memulung benda-benda di alam adalah kesadaran prareflektif, di luar intensi untuk “tahu” dan hasrat untuk memberi nama pada sesuatu.

Proyek Made Djirna untuk Jakarta Biennale 2017 melanjutkan proses memulung di atas. Ia mengamati batu apung (pumice) yang ditemukannya di sejumlah pantai di Bali. Selama berbulan-bulan ia menelusuri Pantai Beraban, Kabupaten Negara, sampai Pantai Jumpai di Klungkung. Ia juga memulung batu apung di Pantai Purnama, Gianyar, yang kini mengalami abrasi luas.

Batu apung adalah lava padat, produk letusan gunung berapi yang terbentuk melalui proses ratusan tahun dan bertekstur khas. Terbawa oleh gelombang laut dan diterjang banjir, batu-batu ini dianggap sebagai sampah yang perlu dibakar bersama jenis sampah yang lain. Setelah dibakar, kekhasan batu apung lenyap dan menjadi lebih rapuh.

Djirna justru memahat batu-batu itu dengan intuisi akan wajah arkais-universal dan merangkainya menjadi karya objek-instalasi berukuran besar. Satu batu apung bagi Djirna menandakan simbol sebuah jiwa. Kesatuan jiwa-jiwa mewujudkan kekuatan tak terhingga. Itulah energi kehidupan. Dalam tingkat individual, energi kehidupan membentangkan jalan hidup yang mesti dilakoni oleh tiap individu; pradestinasi, sudah tertentukan sesuai kodratnya.

Kepekaan pada yang niskala itu bagi Djirna hanya tumbuh melalui latihan rasa. Hanya dengan rasa inilah manusia bisa berkomunikasi dengan berbagai makhluk hidup yang lain, termasuk benda-benda di alam yang dianggap sebagai benda mati. Kata Djirna, “makin halus rasa kita, makin luas pula komunikasi kita di alam semesta”.

Di dalam lingkungan fisik dan sosial yang berubah makin cepat, ruang untuk menemukan yang arkais makin sempit dan terbatas. Sejak awal 1970-an, hubungan fisik masyarakat Bali dengan alamnya berubah mengikuti industri turisme dan modernisasi. Namun, dunia modern yang bertumpu sepenuhnya pada logika rasional mereduksi apa yang tersembunyi menjadi sekadar apa yang tampak. Maka, Djirna berupaya melihat apa yang tersembunyi di balik penampakan alam, yang sesungguhnya memiliki self-givenness; memberikan dirinya untuk melahirkan keterbukaan si pemandang.

Ekspresi kebudayaan Bali pada umumnya merupakan ungkapan rasa tulus dan persembahan kepada Sang Maha Pencipta. Ketulusan itulah – disimbolkan oleh batu-batu apung – yang makin tergerus oleh perubahan waktu dan zaman.