I Wayan Sadra

I Wayan Sadra

Bebaskan Musik dari Beban Kulturnya!

 

 

Panggung Teater Bong di belakang kantor Taman Budaya Surakarta itu disulap menjadi bengkel besalen atau pabrik gamelan. Gundukan api membara di tengah halaman teater. Beberapa pandai gamelan menempa lempengan logam bundar yang membara. Anak-anak api berpendaran. Tempaan palu di tubuh lempeng logam menghadirkan ritme konstan, juga produksi nada-nada yang terbatas. Hingga, setelah mewujud serupa ricikan gong, lempengan itu dimasukkan ke dalam air: cesssss…! Satu ricikan alat musik gong terproduksi. Biasanya, setelah itu, mitos segera dibangun melalui serentetan ritual yang berujung pada penahbisan nama yang diawali dengan sebutan Kyai atau Nyai.

Tapi sang pemesan gong tak menuntaskannya hingga puncak selebrasi yang berujung pada penamaan Kyai atau Nyai itu. Sebaliknya, ia kembali menempa, menggerinda, bahkan membakarnya kembali hingga bopeng tak karuan. Di belakang tungku perapian, seratusan orang menggumamkan nada-nada choral. Suaranya berat. Nada-nadanya datar, lirih.

Demikian kira-kira sepotong pertunjukan berjudul Gong Dekonstruksi yang pernah digagas oleh I Wayan Sadra. Karya ini urung dimainkan lantaran Sadra meninggal (2011) sebelum usai seluruh proses pengkaryaannya. Namun demikian, beberapa elemen karya tersebut sesungguhnya telah berpendaran lewat momen-momen artistik Sadra sebelumnya. Ia, misalnya, ketika hidup di tengah gairah pembaharuan era Sasonomulyo, melakukan eksperimen Gong Seret, di mana ricikan gong (dalam gamelan Jawa) tidak dimainkan sebagaimana dalam tradisinyasebuah laku dekonstruktif yang luar biasa, sebab gong dimitoskan sebagai benda sakral oleh masyarakat pemiliknya—melainkan dengan diseret-seret di lantai panggung. Juga, pada karya Otot Kawat Balung Wesi yang dimainkan di Art Summit 2004. Di sini gong diletakkan di atas lantai dan dimainkan dengan tepakan dan pukulan tangan telanjang. Dalam Kesibukan Mengamati Batu-batu dari Balik Pintu yang berkolaborasi dengan penyair Afrizal (1996), pemaknaan serupa juga tampak pada karya yang mengingatkan naluri-naluri hewani pada manusia dalam balutan religius itu.

Perlakuan Sadra atas gong tersebut tentu bukan sensasi murahan. Terutama setelah melakukan riset di sebuah besalen, Sadra menemukan nilai-nilai penting bagi ide dan gagasan karya-karyanya. Di besalen, katanya kala itu, sama sekali tidak ada aura wingit, mitos, dan magis seperti yang dikatakan orang. Malah, mitologi dan kepercayaan yang kompleks tidak lahir dari orang-orang yang kepepet, tetapi justru lahir pada saat Gong sudah berpindah tangan ke kaum kuat, saudagar, ningrat, calo, pejabat atau birokrat yang merangkap bakul. Di tangan mereka, mitos berpendar-pendar menjadi nilai jual yang aduhai mahal. “Kesenjangan ini menolak saya menjadi romantis. Mereka membutuhkan suatu pembelaan!” sebut Sadra.

Konstruksi pemikiran di ataslah yang menjadikan karya Sadra berbau Marxis. Gong Dekonstruksi adalah bentuk demitologi gong menjadi peranti musik yang terbebas dari beban kulturnya. Cara berpikir ini mewarnai semangat karya-karyanya yang lain, seperti Beringin Kurung yang menolak utopisme kaum papa yang menghamba pada kekuatan mitos beringin di keraton Surakarta. Ia, bahkan pernah pula menghadirkan sapi mencret di atas panggung, pada konser Bunyi bagi Suara yang Kalah (1996), untuk sebuah gagasan musikal yang berbau rezim politik Indonesia menjelang reformasi.

Momen intelektual yang ditandai dengan konstruksi pemikiran bebaskan musik dari beban kulturnya itu, menjadikan Sadra, oleh Dieter Mack, disebut sebagai komposer yang tidak bisa melewatkan suatu objek apa pun tanpa mengeksplorasikan bunyi-bunyinya. Satu ciri khas Sadra adalah “penasaran” terhadap segala media dan segala sesuatu yang berbunyi. Namun, Sadra tidak hanya menyusun bunyi-bunyi atau media-media, ia sangat sadar tentang implikasi masing-masing sumber tersebut. Artinya, ia bisa melakukan apa saja—termasuk menuntun sapi di atas panggung—akan tetapi pengolahan terhadap media itulah yang paling penting buatnya. Maka, unsur visual dan teatrikal acap menonjol dalam karyanya.

Untuk semua itu, Sadra punya alasan: di Bali, kesenian itu total melibatkan seluruh indra. Mata dirangsang oleh ragam hias janur, hidung oleh bau dupa, kulit oleh percikan air pemangku, dan lidah oleh beras kuning. Impresi yang didapat dari sini melahirkan konsep kekaryaan yang cenderung multi media. Bahkan, beberapa karyanya justru lebih terbaca dari aspek seni rupa pertunjukan ketimbang musiknya sendiri. Daily, karya lain dari Art Summit 2004, mengesankan aspek visual yang ekspresif lewat pecahan telor ayam yang dilemparkan ke permukaan plat baja yang dipanaskan.

Melalui itu, Sadra menjadikan sesuatu yang sangat terbatas dan sederhana menjadi sangat kaya dan bervariasi, sesuai dengan sifat dan karakteristik materi (media) yang digunakan. Keturunan seorang petani di pinggiran Kota Denpasar ini pun diganjar penghargaan bergengsi New Horizons Award dari International Society for Art, Sciences and Technology di Berkeley California pada 1991. Ia orang Asia pertama yang meraih penghargaan tersebut.

Kelahiran 1 Agustus 1953 di Banjar Kaliungu Kaja, Denpasar, Bali, I Wayan Sadra datang ke dunia sebagai anak “nakal” yang hidup di lingkungan kesenian yang bergairah. Sedari kanak ia penabuh gamelan untuk upacara di pura-pura. Ia juga seorang penari Janger ketika kehidupan tarian ini meriah di Pulau Dewata. Semasa di bangku sekolah Konservatori Karawitan (Kokar) Bali, ia berpentas di desa-desa dan sekaha-sekaha (paguyuban manasuka) di sekitar kampungnya. Setamat dari Kokar, Sadra hijrah ke Jakarta, ingin menjadi polisi. Alih-alih jadi polisi, ia mengenyam di beberapa sanggar, termasuk sanggar Rasa Devani pimpinan I Wayan Diya serta Saraswati milik I Gusti Kompyang Raka. Di sini ia bertemu Sardono W. Kusumo dan direkrut sebagai pemusik dalam Dongeng dari Dirah (1974) untuk tur ke Eropa.

Ia kemudian kuliah di Jurusan Seni Rupa LPKJ-IKJ. Namun, atas kemampuannya dalam bermain gamelan, Sadra malah diangkat mengajar gamelan Bali di jurusan musik. Pada 1983 ia diminta Gendon Humardani, Direktur Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta, untuk mengajar mata kuliah Gamelan Bali dan Komposisi Baru. Di kampus yang sekarang menjadi ISI Surakarta ini, Sadra mengajar sambil membuat karya dan melanjutkan studi S1. Puluhan karya dilahirkan di sini, meski sesungguhnya beberapa telah lahir sebelum hijrah ke Surakarta. Pada 1978, Sadra menampilkan komposisi karawitan berjudul Lanyad di TIM, Jakarta. Setahun kemudian membuat komposisi Lad-Lud-an untuk Pekan Komponis Muda.

Di Sasonomulyo—kampus ASKI—ia mulai membuat komposisi Gender bersama empu karawitan, Marto Pangrawit. Sadra juga menyusun Triple X serta membuat musik untuk teater Byakossa dari Jepang. Pada 1986, selama enam bulan, ia menjadi pengrawit untuk Expo Vancouver di Canada. Dan Sadra mulai banyak terlibat dalam forum-forum musik dunia, seperti Pasific Ring Musik Festival di Sandiego State University, USA; Composer to Composer yang diprakarsai oleh John Cage di Telluride, Colorado, USA (1990); komposisi musiknya, Bayu Bajra, dipentaskan keliling di Amerika Serikat (1991); menjadi artist residence di Darthmouth College, New Hemshire USA, untuk belajar musik elektronik pada Bergman Electronic Studio. Di sini Sadra melahirkan karya elektronik Snow Have Dream dan Work in Progress (1991).

Pada 1992 Sadra membuat musik tari Tempest in Borobudur bersama penari butoh, Katsurakan, yang dipentaskan di Osaka, Fukuoka, Nagoya, dan Kyoto. Kemudian ia menggubah komposisi musik Tanpa Judul untuk Asia Pasific Composer & Conference di Wellington, New Zealand (1993). Ia juga membuat musik tari Dong Feng untuk Keiko Contemporary Dance Company yang dipentaskan di Jepang dan Thailand; diundang oleh Isjbraker (Amsterdam Muziek Centrum) dalam rangka Indonesie Muziek Week.

Dan seterusnya, Sadra melahirkan karya-karya musik untuk konser maupun tari, teater, dan multimedia. Pada 1994 ia membuat Gatra Swara untuk pameran patung Hajar Satoto. Ia juga membuat musik-teater Korupsi Suara di Meja Makan (1996); menjadi penampil pada Festival Improvisatie-Bim Huis-jazz and Improvisation, Amsterdam; menyusun musik tari Asmarandana koreografer Ayu Bulan Jelantik di Moskow dan Leningrad Rusia (1997); membuat komposisi Laras Lurus bersama Sono Seni Ensemble serta komposisi musik Gender Plus untuk Saporo Musik Festival (Jepang) dan Weimar Kulturstad Festival (Jerman) pada 1998.

Pada era 2000, Sadra mementaskan karya pada Compostella Milenium Fest di Spanyol; berkolaborasi dengan pemusik jazz dari Jepang, Takahito Hayasi; berkolaborasi dengan komponis Yuji Takashi dan koreografer Sardono W Kusumo di Sumida Hall-Tokyo; membuat musik untuk Hamlet, dipentaskan di Denmark; menyusun komposisi Beringin Kurung, Kodok Ngorek, Sungsang; membuat komposisi untuk teater Silent River di India dan Jepang; komposisi musik Wind untuk Vancouver New Musik; mementaskan Daily pada Art Summit Indonesia 2004; membuat karya musik teater Sobrat sutradara WS Rendra; mementaskan komposisi musik Bayu dan Enerji pada Festival Seni Surabaya 2006, juga berkolaborasi dengan kelompok Jazz Mazzola Duo dari Swiss. Sadra kerap diundang sebagai pembicara dan sesekali membuat drawing serta menuliskan pemikirannya tentang musik dan kebudayaan di berbagai media massa.