Imhathai Suwathanasilp

Imhathai Suwathanasilp

Imhathai Suwatthanasilp

Lahir di Chaiyaphum, Thailand, 1981.

 

 

Imhathai memperoleh beasiswa untuk belajar di École nationale supérieure des beaux-arts, Paris, dan gelar master dari Fakultas Seni Lukis, Patung, dan Grafis dari Universitas Silpakorn, Bangkok. Karya-karyanya sudah dipamerkan di International Incheon Women Artists Biennale, Incheon (2009); Busan Biennale, Busan; Nichido Contemporary Art, Tokyo (2010); dan Thai Transcience di Singapore Art Museum, Singapura (2012). Pameran tunggalnya adalah “Rebirth” (2014) dan “Ruen Sam Nam See” di Bangkok (2017).

Karya-karya dwimatra Imhathai terutama berbasis pada garis-garis liris seni gambar yang artistik. Yang mengejutkan, citra-citra pada gambarnya seringkali terwujud lewat materi helai-helai rambutnya sendiri. Rambut-rambut yang sangat halus, lembut, dan tipis disusun untuk mewujudkan citra tertentu dengan garis-garis lengkung sangat rapat. Yang muncul pada bidang gambarnya adalah citra hitam-putih yang segera mengingatkan kita akan bentuk rahim, citra organik alam, rupa simetri, dan siluet wajah dengan isian yang rumit.

Penggunaan materi rambut, baik asli maupun buatan, merupakan kekhasan karya-karya Imhathai. Ini tidak hanya untuk karya dwimatranya tetapi juga trimatra. Jalinan rambut yang membentuk potongan kepang, pot, mahkota, cadar, kerudung yang dirajut halus seperti sarang laba-laba, atau kain brokat tipis digabung dengan objek-objek sehari-hari seperti batu dan gantungan baju. Kerap menggunakan rambut sendiri, Imhathai seakan mau menegaskan dan meletakkan identitasnya sendiri pada objek-objek itu. Sesuatu yang privat dengan halus menampakkan diri, mencari maknanya melalui pertautannya dengan benda-benda lain.

Dalam festival Undisclosed Territoty #9 (2015) yang berlangsung di Studio Plesungan, Karanganyar, Surakarta, ia menampilkan performans dengan sarana batu-batu koral putih yang dibungkus rajutan rambutnya sendiri. Batu-batu itu kemudian dilontarkan ke dalam hutan gelap dengan ketapel. Benda itu datang dari suatu tempat yang tak diketahui, ditemukan, dan kemudian jatuh di sebuah tempat yang entah. Imhathai kemudian menulis, “Keep it to see when I am not with you.” Benda-benda privat dan memori, inilah kekhasan yang menghuni kawasan seni perempuan.

Bagi Imhathai, rambut memiliki identitas tertentu yang mampu menunjukkan hubungan kekerabatan. Rambut juga memiliki makna dalam banyak kebudayaan, terutama dalam khazanah ritual. Di dunia modern rambut adalah atribut yang tidak bisa dipisahkan dengan identitas pribadi, misalnya keperempuanan dan status gender.

Pada Jakarta Biennale 2017, Imhathai menyajikan sejumlah gambar hitam-putih yang mencitrakan sosok dan bentuk-bentuk seperti daun, rahim, dan siluet wajah. Ia menggunakan materi campuran berupa rambut asli, grafit, dan akrilik – untuk menghitamkan gambar. Penggunaan garis-garis halus dan rapat setipis rambut yang memenuhi bidang gambarnya menimbulkan kesan puitis, subtil, sesuatu yang liat sekaligus rapuh. Identitas visual itulah yang menandai kekhasan karya-karya Imhathai sebagai salah satu perupa kontemporer Thailand yang menonjol belakangan ini.