Jason Lim

Jason Lim

Lahir di Singapura pada 1966. Tinggal dan bekerja di Singapura.

 

 

Karya-karya Jason Lim meliputi foto, video, instalasi, seni keramik, dan seni performans. Ia berkelintar antara penggunaan bentuk representasi yang ditandai oleh pengulangan (seperti ritual meniru perkembangan dan pembusukan peristiwa alam) dan bentuk-bentuk yang ia ciptakan sendiri. Bentuk karya keramik Lim, seringkali sebagai hasil dari performans, selalu merupakan hasil interaksi tubuhnya dengan material dan selalu mengandung potensi. Ia berprinsip bahwa makna datang dan pergi, dan menurutnya upaya untuk mencari dan menunjuknya sia-sia. Lim mendapat inspirasi dari tema-tema dunia material dan spiritual, seperti yang tersusur dalam naskah Hindu, Bhagavad Gita, dan sumber-sumber lain, termasuk peristiwa dan lanskap. Namun, ia tidak niscaya menirunya: ia ingin berkembang bersama alih-alih berkejaran dengan lingkungan alamiah.

Performans Lim mengusik penonton dengan pilihan objek yang berani, seringkali dalam tataran penuh risiko dan mendesak. Struktur karyanya sudah selalu memiliki kemungkinan ambruk, merusak-diri, atau mengalami erosi. Karyanya menangkap hakikat objek kajian yang organik dan alamiah sembari mengungkapkan kesadaran hubungan manusia dengan objek tersebut. Dalam kata-kata Lim: Saya mengubah identitas benda-benda dan menciptakan banyak lapisan makna. Buat saya, menangkap kecenderungan visual yang mempengaruhi dan merangsang persepsi dan khayalan pemirsa adalah hal penting. Dengan begitu, saya ingin melemparkan pertanyaan visual melalui karya saya, bukan jawaban.

Pada 1995 di galeri The Substation, Lim menyajikan karya terobosannya, Three Tonnes of Clay dengan rekan seniman keramik, Ng Siew Kuan. Tanah liat yang belum dibakar mengisi penuh seluruh galeri itu sehingga sang seniman dan pemirsa dapat membentuk dan mengubah ruangan tersebut. Setelah performans usai, jejak tubuh Jason masih tercetak pada instalasi tersebut sehingga ada kesan energi yang tertinggal bagi para penonton yang datang kemudian: mereka jadi tahu apa yang terjadi dalam ruang tersebut.

Pada Jakarta Biennale 2017, sekali lagi Lim akan menggunakan tanah liat dalam jumlah besar dalam sebuah performans berdurasi, dan menggali motif akar gantung pohon beringin. Pohon beringin, yang tumbuh dari atas ke bawah pada suatu pohon inang, dikemukakan sebagai metafora filosofis yang menggerakkan praktik seni keramik Lim sekarang ini; menyibak karakteristik ganda dari alam sebagai yang baik dan jahat.