Luc Tuymans

Luc Tuymans

Luc Tuymans

Lahir di Mortsel, Belgia, pada 1958. Menetap dan bekerja di Antwerp, Belgia.

 

 

Luc Tuymans bergelut dengan mediasi dan penerjemahan found images (gambar-gambar yang ditemukan kembali setelah dibuang atau hilang), yang dalam lukisan-lukisannya terlihat tereduksi, buram, terlabur, atau terpadatkan, seolah dipandang dari beberapa jarak. Luc secara khusus mengolah kembali gambar sumber melalui berbagai sketsa, fotokopi, foto polaroid, atau bahkan rekonstruksi model fisik, sebelum ia mulai melukis. Alhasil, gambar-gambarnya mengikuti ketidakkonsistenan struktur ingatan masa lampau, seperti sejarah lisan yang menekankan kemungkinan pengakuan (kembali) dan penyampaian kenangan tentang kebenaran. Pendekatan ini menjadi kesaksian akan apa yang Luc percayai; bahwa representasi selalu hanya bisa parsial dan subjektif, dan bahwa makna harus dipersatukan melalui fragmen-fragmen yang terisolir.

Untuk Jakarta Biennale 2017, Luc Tuymans menciptakan lukisan dinding, film animasi, dan beberapa gambar. Lukisan dinding tersebut, Twenty Seventeen, menampilkan seraut wajah pucat dalam jarak dekat yang terlihat seperti topeng muncul dari kegelapan dengan mata terbuka lebar. Sebagai hologram yang dibuat berdasarkan seorang tokoh dari sinetron Brazil, wajah itu tampak terpesona oleh sesuatu yang terjadi di luar gambar. Pengunjung mungkin akan teringat akan lukisan Indonesia yang tak dikenal oleh Luc: kanvas S. Sudjojono yang tak sempat selesai, Perusing a Poster (1956). Lukisan ini menampilkan suatu kerumunan yang terpesona oleh poster-poster – di luar bingkai gambar – untuk pemilihan legislatif pertama sejak kemerdekaan Indonesia. Pemilihan umum itu adalah satu-satunya yang terselenggara sebelum Sukarno membawa Indonesia menuju periode Demokrasi Terpimpin. Lima puluh tahun setelah Sudjojono, Luc menghubungkan karyanya dengan tahun pemilu yang mungkin memiliki konsekuensi-konsekuensi global.

Ketertarikan Luc pada teknik-teknik sinematik yang lebih luas terus terasa sejalan dengan penciptaan sebuah film animasi, karya kolaborasinya bersama Joris Van Poucke, yang tengah dalam pengerjaan berjudul Animation (2017). Dalam suasana muram, penonton menyadari adanya sepetak tanah di pinggir sungai. Sosok-sosok putih menyeruak dari kegelapan. Penggambaran ini didasarkan pada adegan pembuka dalam A Twist of Sand (1968), pada saat individu-individu tak dikenal tinggal beberapa detik saja sebelum ditembak oleh sumber yang tak terlihat. Luc secara hati-hati menghindari momen eksekusi itu sendiri.

Terakhir, Luc menciptakan beberapa gambar pensil yang didasarkan pada foto-foto patung kayu kecil seperti tokoh-tokoh cerita rakyat – kemungkinan Belanda – dalam latar pedesaan yang terlihat seperti diorama. Patung-patung kayu itu mengingatkan kita baik akan lukisan-lukisan awal Van Gogh yang gelap tentang kehidupan keras petani maupun tiruan menggelikan penjajah Belanda oleh pengrajin wayang Indonesia – yang dipamerkan di Museum Wayang Jakarta.