Marintan Sirait

Marintan Sirait

Marintan Sirait

Lahir di Braunschweig, Jerman, pada 1960. Tinggal dan berkarya di Bandung.

 

 

Marintan Sirait belajar seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan telah berpartisipasi di berbagai pameran, performans, lokakarya, seminar, dan residensi internasional sejak 1990-an. Ia penggagas dan fasilitator proyek-proyek performans dan seni visual partisipatif dan kolaboratif. Bersama Andar Manik, ia mendirikan Jendela Ide (1995), sebuah wadah bagi kaum muda untuk mengalami transformasi nilai melalui media seni-budaya. Bersama sembilan perempuan profesional Bandung, ia mendirikan Rumpun Indonesia (2015), media perempuan untuk sosialisasi nilai integritas melalui seni partisipatif.

Pada pertengahan dekade 1990-an, perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia dibayang-bayangi oleh praktik artistik baru, yaitu performans. Kecenderungan seni peristiwa yang melibatkan tubuh seniman sebenarnya sudah mulai menggejala sejak dekade 1970-an. Namun, baru pada akhir 1990-an praktik performans makin menegas. Di antara sangat sedikit seniman performans saat itu adalah Marintan Sirait.

Bagi Marintan, tubuh personal perlu memperoleh tempat dan pemaknaan dalam ruang seni kontemporer. Di sanalah akan tampak paradoks-paradoks. Yang personal niscaya melakukan interaksi dengan kehidupan sehari-hari, mengusung nilai dan perspektif sosial. Namun, tubuh yang sama juga memendam memori dan cita-cita masa depan serta berhak atas kebebasan. Tubuh adalah rumah sekaligus tempat berlindung paling rentan dalam interaksi antarmanusia.

Kita mengenal gagasan dualisme tubuh dan jiwa. Pandangan lain menggambarkan bahwa tubuh (soma) adalah tanda (sema) kehadiran jiwa kita. Melalui tubuh, jiwa manusia memperlihatkan tanda-tandanya. Marintan secara lintas disiplin menjelajahi praktik-praktik somatis, meditasi, dan estetika keseharian sehubungan dengan pandangan tersebut.

Pada Jakarta Biennale 2017, Marintan menilik kembali karya performansnya, Membangun Rumah (1992–1997). Karya ini mengacu pada unsur-unsur alam seperti gunung, tanah, pepohonan, dan konstelasi bintang-bintang. Praktik performansnya melibatkan rupa, gerak, bunyi, lintasan waktu, dan ruang. Karya barunya itu sendiri berupa instalasi dan performans, bertajuk Membangun Rumah dan Ruang Perjumpaan, dan menggunakan materi seperti tanah, abu, kerikil, cahaya, gerak tubuh (disebut ruang horizontal) dan proyeksi video pada kaca akrilik (disebut ruang vertikal). Praktik performansnya merupakan aktivisme yang partisipatif, kreatif, eksploratif, dan nonpolitik.

Marintan menampilkan gagasan mengenai pelambatan. Dalam kehidupan personal maupun sosial, kepekaan akan gestur dan sentuhan sangatlah signifikan. Melalui gerak lambat tubuh, hal-hal itu dapat dihayati. Pelambatan merelasikan kembali hubungan tubuh dengan ruang, untuk menangkap lintasan waktu dan merasakan kehadiran benda-benda di sekitar kita. Gerak lambat menghidupkan penanda-penanda yang “membangun rumah” dan ruang-ruang perjumpaannya. Yang esoteris dan eksoteris bertemu di ruang-ruang itu.

Mengisi salah satu rangkaian program Jakarta Biennale 2017, Marintan juga menyelenggarakan lokakarya performans “Ruang Perjumpaan”, mengangkat tema tentang tubuh-tubuh yang pada hakikatnya adalah kumpulan energi yang bergerak dalam sinkronisasi.