Jakarta Biennale 2015

 Maju Kena, Mundur Kena – Learning in The Present


 15 November 2015 – 17 Januari 2016


Jakarta Biennale adalah sebuah perhelatan akbar dua tahunan seni rupa kontemporer berskala internasional. Pada 2015, perhelatan ini mengusung tema “Maju Kena, Mundur Kena: Learning in The Present”. Dengan tema ini, masa kini, masa lalu, dan masa depan diamati melalui tiga elemen: konteks internasional dalam Jakarta sekarang, Indonesia era-1980-an, dan seniman muda Indonesia saat ini. Ketiga elemen itu bersinggungan dengan tiga isu utama: belajar, air, dan sejarah saat ini.

Jakarta Biennale akan melibatkan seniman, kurator, dan peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan negara dalam proses belajar-mengajar yang eksperimental, kolektif, dan kolaboratif. Mereka akan mengolah beragam proyek seni rupa yang melibatkan warga kota dan komunitasnya, untuk memaknai Jakarta dan hubungannya dengan dunia—termasuk persoalan gentingnya sejak dulu hingga sekarang, yaitu air. Jakarta Biennale hendak melihat bagaimana air selama ini digunakan, diselewengkan, dan dikuasai negara dan kotanya. Dari air, kita bisa melihat nilai budaya masyarakat—termasuk pengertian kita saat ini atas sejarah.

Mengingat sejarah selalu konteksual, Jakarta Biennale akan membahas era 1980-an. Suatu era penting ketika percaturan ekonomi dan politik dunia dan Indonesia menjadi global dan neoliberal dengan mentalitas hukum rimba yang berlangsung hingga kini. Juga era ketika kelas menengah baru beserta media dan budaya populernya tumbuh di Indonesia. Kita bisa melihat 1980-an dalam masa kini. Jakarta Biennale hendak belajar merangkai masa lalu dan kemungkinan masa depan untuk memahami masa kini, termasuk kemungkinan lain dari masa sekarang

Jakarta Biennale 2015 dikuratori oleh Charles Esche, yang pernah terlibat dalam berbagai biennale internasional penting seperti Gwangju 2002, Istanbul 2009, dan Sao Paulo 2014. Ia berkolaborasi dengan tim kurator muda Indonesia dari berbagai kota: Anwar ‘Jimpe’ Rachman (Makassar), Asep Topan (Jakarta), Benny Wicaksono (Surabaya), Irma Chantily (Jakarta), Putra Hidayatullah (Banda Aceh), dan Riksa Afiaty (Jakarta).

Selain sejumlah pameran dan proyek seni rupa di ruang kota, Jakarta Biennale juga menyelenggarakan berbagai program pendukung seperti seminar, workshop, edukasi publik, dan panggung pertunjukan untuk seluruh warga Jakarta dan dunia.


Jakarta Biennale is an international bi-annual event of contemporary art. In 2015, this event carries the theme “Maju Kena, Mundur Kena: Learning in the Present”. By means of this theme, the past, present, and the future are observed through three elements: the contemporary international context in Jakarta, Indonesia and the world in the 1980s, and young Indonesian artists now. These three elements intersect with three major issues: learning, water, and history today.

Jakarta Biennale will involve artists, curators, and researchers from various disciplines and nationalities in the experimental, collective, and collaborative process of learning and teaching. They will process diverse visual art projects involving citizen and its communities, in order to interpret Jakarta and its relationship with the world—including its crucial problems then and now: water. Jakarta Biennale will look at the way water is used, abused, and controlled by the state and city. From water, we can see the people’s value—including our today’s understanding on history.

Considering that history is always contextual, Jakarta Biennale will examine 1980s era. A notable era when the world’s and Indonesia’s economy and politics became global and neoliberal with survival of the fittest mentality that holds sway today. It was also an era when new middle class along with its media and pop culture increased in Indonesia. We can see the 1980s in the present. Jakarta Biennale aims to learn to weave the past and future’s possibilities to understand the present, including the present’s other possibilities.

In addition to a number of exhibitions and art projects in city spaces, Jakarta Biennale also organizes supporting programs such as seminars, workshops, public education, and stage performances for all Jakarta’s and the world’s citizens.