Nikhil Chopra

Nikhil Chopra

Nikhil Chopra

Lahir di Kalkuta (sekarang Kolkata), India, pada 1974. Tinggal dan bekerja di Goa, India.

 

 

Praktik artistik Nikhil Chopra beredar di sekitar seni hidup, lukisan, fotografi, patung, dan instalasi. Performansnya, yang biasanya dilakukan dengan improvisasi, membahas isu-isu seperti identitas, peran autobiografi, perihal berpose, dan potret diri. Karya-karyanya mencerminkan proses transformasi dan seringkali berdurasi panjang. Chopra memadukan hidup sehari-hari, ingatan, dan sejarah kolektif. Tindakan sehari-hari seperti makan, istirahat, mencuci, dan memakai baju, juga menggambar dan membuat pakaian, mendapat nilai produktif, menjadi bagian penting dari apa yang diperlihatkan dalam pameran-pamerannya. Performansnya dapat dilihat sebagai sebuah bentuk penceritaan yang menenun sejarah, narasi personal, dan kehidupan sehari-hari. Proses performans adalah cara untuk mencapai, menguak, menyarikan, dan menampilkan semua aspek tersebut. Setiap performans tersingkap dalam happening berdurasi lama yang bisa dilakukan dalam satu atau beberapa hari, melalui gerakan-gerakan lambat, penuh pertimbangan, dan diritualisasi. Tindakan sehari-hari seperti mencuci, makan, bercukur, tidur, dan berpakaian menjadi elemen penyusun naskah performans yang karakter utama dan satu-satunya sering terlihat menggambar di atas kanvas lanskap atau pemandangan urban di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Setiap tindakan atau jeda sarat dengan antisipasi perubahan yang mungkin terjadi.

Untuk Jakarta Biennale 2017, Nikhil Chopra menampilkan gambar dan proyek performans Land Water. Selama delapan jam, Nikhil akan menggunakan sebuah ruangan di Museum Sejarah Jakarta, di Taman Fatahillah. Ia akan membawakan sesosok persona yang menyerupai gagasan kolonial akan Lelaki Oriental Kebarat-baratan atau wog (westernized oriental gentleman; julukan cemoohan yang digunakan oleh pemerintah Inggris untuk para perwira penduduk asli di daerah jajahan yang bekerja untuk pemerintah kolonial). Karya ini mencakup pembuatan gambar di dinding menggunakan 20 kilogram lumpur, 20 kilogram beras, dan 20 liter air. Gambar-gambar itu melambangkan laut lepas sehingga memberikan kesan bahwa kita dikelilingi air. Gambar-gambar dan bahan yang digunakan untuk membuatnya akan membangunkan sejarah dan politik dalam diri yang berkaca. Kuasa Kolonial hampir selalu disebarkan dengan cara penguasaan, manipulasi, dan eksploitasi tanah dan air. Gagasan bahwa kita terjebak di air jelas terasa oleh banyak pulau di Indonesia, lebih-lebih sekarang karena kita berhadapan dengan perubahan iklim, gunung es yang meleleh, dan naiknya ketinggian air laut.