Otty Widasari

Otty Widasari

Otty Widasari

Lahir di Balikpapan, Indonesia, pada 1973. Menetap dan bekerja di Jakarta, Indonesia.

 

 

Otty Widasari adalah seniman dan salah satu pendiri Forum Lenteng, sebuah kolektif di Jakarta yang berfokus pada seni, media, dan kajian sosial budaya. Kerja artistik individualnya terpelihara berkat keterlibatannya dalam aktivisme media, pengalaman-pengalaman jurnalistik yang berkaitan dengan realitas sosial historis, dan pembelajaran serta kegairahan dan kepakaran film sepanjang hayat. Praktik menggambar yang ia lakukan secara terus-menerus menghimpun semua kegiatannya dalam satu wadah: buku harian kerja.

Karya-karyanya mengangkat perjuangan sehari-hari yang berkaitan dengan kondisi material hidup, seperti dalam Home (2007) di mana karakter utamanya menggugat ekploitasi permanen para pekerja kelas bawah di tempat kerja mereka di Jakarta. Syair visual Green Mountain, Heaven Mountain (2013) diilhami dari sebuah kutipan dari rubai kuno Persia tentang tegangan antara kebiasaan-kebiasaan tertentu yang patriarkal dan membatasi, dan kebutuhan bagi perempuan untuk “merasakan kenikmatan surgawi di dunia”.

Dalam karya videonya, Fiksi, sang seniman menambahkan sebuah multi-voiceover misterius ke dalam rekaman video lo-fi sejumlah diorama di Monumen Nasional, Jakarta. Lanskap suara manusia melemahkan kejernihan monolitik versi kanonik kisah nasional Indonesia. Investigasi lainnya dalam serial pameran tunggal Ones Who Looked at the Presence (2015) dan Ones Who Are Being Controlled (2016), menampilkan berbagai gambar wajah manusia yang menatap penonton. Semua wajah orang Indonesia ini digambar ulang dari materi fotografi dan film kolonial yang diproduksi oleh Perusahaan Hindia Belanda (sekarang tersimpan dalam arsip Belanda). Wajah-wajah itu dibidik oleh mata kolonial dari balik kamera, beserta struktur kuasa dan kekerasannya. Awalnya berfungsi sebagai laporan guna memberi gambaran tentang koloni bagi penonton di metropolis, kini gambar-gambar itu diapropriasi ulang oleh sang seniman untuk kita tonton dan pertanyakan.

Performans videonya yang diciptakan untuk Jakarta Biennale 2017, juga dengan judul Ones Who Looked the Presence (2017) ini, akan mengembangkan investigasi lebih lanjut. Melakukan performans untuk kamera yang berdiri di sebuah ruang kosong, perlahan ia mempersiapkan alat pendukung untuk proyeksi film arsip hitam-putih. Pemindahan perancah secara teliti dan mengulang-ulang rupanya membutuhkan waktu hampir selamanya, sementara waktu proyeksinya sendiri singkat. Saat pertunjukan tiba-tiba berakhir, pertanyaan yang tak mengenakkan tetap tak terjawab: Mungkinkah mendekolonisasi gambar selain dengan membakarnya? Bagaimana bisa penggunaan gambar-gambar itu terbebas dari pemenjaraan seniman dalam perannya sebagai korban? Bukankah isyarat ikonoklastik terhadap gambar bersejarah merupakan konsekuensi dari jalan panjang menuju identitas pascakolonial Indonesia?