Pengantar

Yayasan Jakarta Biennale

Pengantar

Yayasan Jakarta Biennale

Melihat sekilas perjalanan Jakarta Biennale selama empat edisi terakhir (2009–2015), kita bisa melihat peran Jakarta Biennale dalam menawarkan tema-tema pembacaan realitas kontemporer. Dalam empat edisi tersebut, Jakarta Biennale telah menggagas isu kota yang kental berikut praktik-praktik artistik yang ditawarkan seniman, baik dalam pameran maupun intervensi ruang-ruang kota serta proyek seni berbasis situs dan komunitas. Irisan-irisan dan elemen-elemen yang berkelanjutan dari satu edisi ke edisi yang lain terlihat dalam Jakarta Biennale 2013 dengan tema “Siasat”, demi memeriksa ulang posisi dan praktik artistik warga dalam menyiasati segala keterbatasan, ketidakstabilan, masalah, ancaman, potensi, maupun kesempatan yang dihadapi di ruang kota. Beberapa isu lalu dibahas dengan lebih tajam dalam Jakarta Biennale 2015 yang berfokus pada isu-isu: kota dan sejarah; air dan lingkungan serta gender dan relasi-relasi di antaranya yang membentuk masyarakat hari ini. Ini membuat Jakarta Biennale menjadi refleksi kritis atau bahkan perayaan atas keriuhan dan kebisingan yang terjadi di sekeliling kita.

Di tengah kebisingan kenyataan hari ini yang riuh dengan fanatisme, kegilaan para pemimpin, dan pertarungan ruang warga serta intoleransi, menjadi relevan dan penting untuk melihat dan mempertanyakan kembali dorongan-dorongan dasar manusia, mengamati berbagai hubungan yang bersifat majemuk, menggerakkan berbagai indra, rasa, dan wawasan. JIWA: Jakarta Biennale 2017 diselenggarakan sebagai usaha untuk terus memperkaya dan memperluas pengalaman artistik dan daya kritis publik dalam mendekati fenomena kenyataan kontemporer dengan cara yang lebih kontemplatif dan indrawi. Itulah mengapa kami memilih Melati Suryodarmo sebagai direktur artistik. Ia menawarkan konsep “Jiwa” untuk membahas berbagai masalah dan pertanyaan mengenai seni dan budaya kontemporer. Jiwa dapat diartikan sebagai sebuah dorongan dasar manusia, kebersamaan, masyarakat, alam, serta segala sesuatu yang bersifat rohaniah dan tak kasat mata. Dengan pengalaman dan kepekaannya sebagai seniman, kurator, dan networker, Melati Suryodarmo kami harap dapat membawa sudut pandang dan pendekatan yang berbeda dan inspiratif. Dari hasil beberapa tahapan diskusi, akhirnya empat kurator, Annissa Gultom, Hendro Wiyanto, Phillipe Pirotte, dan Vit Havranek, kami undang untuk bersama-sama Melati Suryodarmo merancang dan mengarahkan secara artistik bagaimana JIWA: Jakarta Biennale 2017 diselenggarakan.

Lokasi penyelenggaraan JIWA: Jakarta Biennale 2017 terletak di Gudang Sarinah Ekosistem dan, untuk memperluas jangkauan publik, Museum Sejarah Jakarta serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Secara keseluruhan, JIWA: Jakarta Biennale 2017 terdiri atas 51 seniman yang berasal dari dalam dan luar negeri. Dengan terpilihnya tiga lokasi pameran, JIWA: Jakarta Biennale 2017 secara khusus terpusat di dua titik strategis di Kota Jakarta, yaitu di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, dan area Kota Tua, Jakarta Barat. Selain menyelenggarakan pameran seni rupa kontemporer, tim artistik JIWA: Jakarta Biennale 2017 memiliki perhatian khusus pada upaya penerbitan buku seni rupa. Penerbitan buku merupakan salah satu agenda penting Jakarta Biennale sejak 2013. Khusus pada JIWA: Jakarta Biennale 2017, tiga buku diterbitkan seiring penyelenggaraan bienial. Buku-buku tersebut adalah buku kumpulan tulisan seni rupa Bambang Bujono dari 1968–2017; buku catatan-catatan seni rupa Siti Adiyati dari 1975–1997; serta buku berisikan ulasan, tulisan, hingga arsip mengenai Semsar Siahaan. Dalam setiap penyelenggaraannya, Jakarta Biennale memiliki komitmen untuk mengadakan pendidikan seni rupa kepada publik secara berkesinambungan. Hal ini diwujudkan di antaranya dengan menyelenggarakan berbagai lokakarya, seperti lokakarya pemanfaatan benda-benda pascapameran, dan menghadirkan seniman sebagai pengajar di beberapa sekolah yang kami undang untuk bekerjasama. Hal ini kami lakukan untuk terus mendekatkan seni rupa kepada publik, terutama generasi muda.

Selain beberapa hal di atas, Yayasan Jakarta Biennale akan terus mengembangkan kegiatan-kegiatan pendidikan dan kebudayaan di luar penyelenggaraan pameran Jakarta Biennale itu sendiri. Kami harap kami dapat memainkan peran penting dalam perkembangan seni rupa di tanah air. Kegiatan-kegiatan ini kami rancang dan susun sebagai upaya memperluas jaringan, kolaborasi, hingga penyebaran pengetahuan kepada publik yang lebih luas.

Terima kasih atas kerja keras, kerjasama, serta dukungan seluruh pihak yang terlibat. Juga atas seluruh gagasan, semangat, dan persahabatan yang terjalin, yang telah memperkaya Jakarta Biennale 2017 ini.

 

ADE DARMAWAN

Direktur Eksekutif Jakarta Biennale 2017