Pinaree Sanpitak

Pinaree Sanpitak

Pinaree Sanpitak, berkolaborasi dengan Rahung Nasution

Lahir di Bangkok, Thailand, pada 1961. Tinggal dan bekerja di Bangkok, Thailand.

 

 

Gagasan utama seni Pinaree Sanpitak adalah perihal tubuh perempuan yang tidak serta-merta terkait dengan politik gender. Bagi Pinaree, yang tak kalah bermakna dari eksistensi perempuan adalah spiritualitas kehidupan. Apa yang lebih simbolis, sekaligus material dan spiritual, pada sosok perempuan kalau bukan tubuhnya? Kehidupan bermula dari tubuh perempuan, melalui proses-proses biologis yang menghadirkan manusia baru melalui kelahiran. Inilah pelintasan antara alam dan budaya.

Dalam karya-karya mutakhirnya, Pinaree menghadirkan sosok perempuan melalui bentuk payudara-stupa. Bentuk payudara mengingatkan kita akan bentuk-bentuk organik di alam dan, secara religius, pada stupa candi-candi Buddha. Dengan mengeksplorasi makna dan abstraksi rupa semacam itu, karya Pinaree memancarkan suasana meditatif, ketenangan, dan keseimbangan. Itulah yang disebutnya sebagai spiritualitas. Demikianlah maka Pinaree hadir sekaligus sebagai sosok ibu, perempuan, dan seniman yang bekerja dengan beragam medium (lukisan, gambar, patung, tekstil, keramik, dan performans).

Pijakan awal proyek performansnya adalah Breast+Stupa Cookery (2005). Awalnya bentuk-bentuk itu diekspresikan melalui karya trimatra (keramik, patung, karya instalasi) tapi kemudian berkembang menjadi performatif. Pinaree mengundang respons pegiat seni di bidang lain, khususnya kuliner, dan khalayak untuk berinteraksi serta mencicipi berbagai jenis makanan yang tersaji melalui rupa payudara-stupa. Peristiwa performatif “breast+stupa cooking” telah mewarnai dan menyinggahi sejumlah museum, galeri, lokakarya, pameran tunggal, dan bienial di sejumlah kota dan negara di dunia (Yokohama, Tokyo, Fukuoka, Singapura, Incheon, Beijing, Paris, San Fransisco, Los Angeles, Kamboja, New Zealand, Texas). Dan inilah untuk pertama kalinya karya Pinaree hadir di Indonesia.

Dalam Jakarta Biennale 2017, Pinaree Sanpitak akan bekerjasama dengan aktivis kuliner yang sangat populer di Indonesia, Rahung Nasution. Putra Sayurmatinggi, Tapanuli Selatan, ini mendirikan SpiceLab (2015) bersama sejumlah seniman Bandung. Bagi Rahung, kepulauan Nusantara adalah gugusan tradisi dan resep kuliner yang kaya-raya. Indonesia adalah sebuah “Kepulauan Rempah-rempah” yang tiada duanya di dunia.

Bersama chef Jodie Adrianto dan Jon Priadi dari Max Havelaar SpiceLab, Rahung akan merespons objek payudara-stupa Pinaree dengan keahlian memasak mereka. Masing-masing akan menyajikan nasi beraroma dari berbagai tradisi di Nusantara dalam tiga payudara-stupa berukuran besar dengan bahan-bahan makanan yang diperoleh di Jakarta. Tradisi memasak nasi beraroma ini, yang contohnya adalah nasi lemak, nasi kuning, dan nasi minyak, di Nusantara merupakan warisan dari percampuran tradisi India dan Islam pada masa silam. Umumnya, sajian itu berhubungan dengan perayaan musim panen, ritus kelahiran, dan berbagai upacara adat lainnya.

Melalui alusi dengan tubuh perempuan dan bentuk stupa, kecenderungan pascaperformans ini secara sensual akan merefleksikan jejak-jejak sejarah dan budaya. Makanan menjadi seni, jejaring citarasa yang menghubungkan antarmanusia sejagat.