PM Toh

PM Toh

Agus Nur Amal atau PM Toh lahir di Sabang, Indonesia, pada 1969.

 

 

Agus Nur Amal mendalami seni teater di Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta. Pada 1991, ia pulang ke Aceh dan mempelajari tradisi mendongeng selama setahun di kampungnya. Sekembalinya ke Jakarta (1992), ia memproklamirkan PM Toh sebagai nama panggungnya.

Teater tunggal adalah teater efektif, murah, dan sederhana. Pertunjukan PM Toh – tak kurang dari 600 jumlahnya – sudah berkeliling ke seluruh dunia. Pada 2014, ia mengikuti program residensi di ASEAS-UK (Association of Southeast Asian Students – UK) Conference, Brighton, Inggris. Ia kini instruktur utama dan narasumber untuk teater objek internasional. Kiprah mendongengnya yang akan selalu dikenang adalah pertunjukan dan lokakarya keliling selama pascakonflik dan tsunami di Aceh, pertengahan 2000-an. Namun, pentas paling mengesankan baginya adalah ketika ia mendongeng demi rekonsiliasi antara penganut Hindu dan Islam di Sumber Klampok, Bali, yang masih dirundung trauma pembunuhan massal 1965.

Pada 2015, PM Toh merayakan 25 tahun berkarya dengan pameran tunggal “Hidangan dari Langit” di RURU Gallery, Jakarta. Hidangan dari langit merujuk pada ayat-ayat di dalam Alquran yang menyebut seluruh isi alam semesta. Bagi PM Toh, langit, matahari, bulan, bintang, gunung, angin, awan, dan manusia bisa didongengkan kembali melalui benda sehari-hari (gayung, ember, corong, baskom, caping, kukusan, kaleng bir, seterika, kipas, sampai plastik sampah). Teater efektif, yang mengingatkan kita pada gagasan Arte Povera – gerakan seni kontemporer Italia akhir 1970-an – adalah teater kehidupan benda-benda. Menonton PM Toh mungkin juga merayakan keberlisanan yang tak juga tertundukkan oleh budaya modern dan keberaksaraan. Pertunjukannya adalah bagian dari kekayaan khazanah bahasa-bahasa dunia yang mayoritas justru tak memiliki tradisi aksara.

Pada Jakarta Biennale 2017, PM Toh akan menampilkan dongeng bertajuk Jiwa Laut. Laut, tema terbesar untuk orang Indonesia, mengandung kehidupan, keluasan, kedalaman, kegelapan, dan ketenangan yang mampu menghipnotis kita. Melalui gagasan dan pengetahuan mengenai laut, orang Indonesia diantar menuju jiwa bangsanya. Namun, kata PM Toh, semua pengalaman bahari itu bagi orang Indonesia kini justru menjelang punah.

Teater tunggal Jiwa Laut menggunakan objek sehari-hari seperti baskom air, topi petani, sandal, dan seterusnya. Tiga puluh dua baskom secara efektif akan digunakan untuk menggambarkan tujuh tingkat kedalaman laut, caping bambu menjadi gunung-gunung berapi yang tertidur, objek lain menjelma sebagai hiu-hiu di samudra. Pertunjukan dongeng selama lebih-kurang 45 menit ini akan berlangsung secara interaktif dengan penonton yang mengenakan busana berwarna putih yang sebagai “layar” video. Dua buah proyeksi masing-masing akan mengarah ke panggung dan ke arah tubuh penonton. Jiwa Laut adalah dongeng ajaib terbaru PM Toh mengenai suasana hati laut, yang tenang menghanyutkan atau bergolak menunjukkan amarahnya.