Ratu Rizkitasari Saraswati

Ratu Rizkitasari Saraswati

Ratu Rizkitasari Saraswati

Lahir di Jakarta, Indonesia, pada 1990.

 

 

Ratu Rizkita Saraswati belajar seni grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus pada 2013. Keterlibatannya dengan performans terjalin melalui beberapa lokakarya, antara lain lokakarya “Videosonic” di ITB, lokakarya “OK. Video: Flesh” di Bandung, dan lokakarya performans video di Jendela Ide, Bandung, bersama Marintan Sirait dan Melati Suryodarmo. Pada 2015, Ratu mengikuti festival performans Undisclosed Territory #8 di Studio Plesungan, Solo. Lompatan dari seni grafis yang sarat tuntutan teknis ke performans, baginya, bermakna indrawi, cair, dan timbal-balik.

Pada Jakarta Biennale 2017, Ratu menampilkan karya performans bertajuk Meronce. Istilah ini merujuk pada teknik merangkai benda-benda kecil yang diikat-sambung dengan seutas tali. Umumnya hanya untuk hiasan. Meronce biasanya diperkenalkan kepada anak-anak usia dini untuk melatih kepekaan motorik, kesabaran, dan ketekunan melalui pengamatan bentuk dan warna. Dalam khazanah susastra Indonesia, Multatuli dalam karya besarnya, Max Havelaar, menggambarkan Kepulauan Indonesia sebagai “untaian ratna mutu manikam”, yang berarti beragam permata teronce indah. Meronce melahirkan sebuah untaian keindahan.

Keterhubungan atau keintiman dalam pekerjaan meronce menarik Ratu untuk menampilkan performansnya. Dalam Meronce dihadirkan suasana diam yang komunikatif antara dua pihak yang sedang meronce. Gestur meronce dan kekhidmatan terhadap benda-benda kecil merupakan praktik yang menyatukan keduanya.

Selama Jakarta Biennale 2017 berlangsung, Ratu akan melakukan tujuh kali performans meronce sekitar 12 kilogram manik-manik kaca kristal putih (21.600 butir), masing-masing berdurasi tiga jam, dengan dua anggota keluarganya sendiri, yakni ibu kandung dan adik perempuannya. Kedua sosok ini memiliki relasi sangat khusus dengan Ratu, yang dilukiskan dalam ungkapan atau frasa, “rasa penerimaan atas hubungan dengan keduanya sebagai caregiver, bagian dari perasaan-perasaan yang tidak bisa dimunculkan ke permukaan dengan mudah”.

Bagi Ratu, kegiatan meronce di atas panggung dengan durasi panjang adalah semacam ritual untuk memahami perasaan dan keberadaan orang lain. Masing-masing ujung benang yang sangat jauh pada suatu ketika akan bertemu di sebuah titik dan menjadi untaian penuh sepanjang 35 meter. Untaian panjang kalung raksasa yang kedua ujungnya bersilangan ini adalah lambang perjalanan panjang yang tidak mudah. Bagi Ratu, performans ini adalah simbol sekaligus upaya yang memperlihatkan sisi kerapuhan dan kekuatan manusia dalam hubungannya dengan orang-orang terdekat.

Performans Meronce Ratu yang sekilas remeh-temeh, yang menekankan penghayatan terhadap waktu dan praktik sehari-hari, adalah paradoks bagi gairah akan kemajuan dan kecepatan di masa kini. Secara reflektif, praktik ini mengesankan situasi “masyarakat dingin” (cold society) yang bergerak lambat, mengulang sesuatu yang telah ada, bergerak seperti biasa sesuai dengan siklus yang sudah terberi.