Robert Zhao Renhui

Robert Zhao Renhui

Robert Zhao Renhui

Lahir pada tahun 1983 di Singapura, menetap dan bekerja di Singapura.

 

 

Praktik seni Robert Zhao Renhui banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan, terutama ilmu kehewanan. Robert sudah memiliki ketertarikan terhadap alam sejak masih kecil. Ia sering memotret hewan di kebun binatang dan mengembangkan gaya yang meniru fotografi dokumenter dan ilmiah. Selama masa studi di London, Robert mengembangkan praktik seninya dengan membangun narasi fotografis berlapis yang mengajak para penonton untuk mempertanyakan apakah yang mereka lihat realitas atau fiksi.

Penyelidikan Robert tentang objektivitas manusia yang tercerap menuntunnya untuk menciptakan dan mempublikasikan karya-karya melalui organisasi fiktif, Institute of Critical Zoologist yang ia dirikan pada 2008, yang pada awalnya ditujukan untuk “mengembangkan sebuah pendekatan kritis terhadap pandangan ilmu kehewanan, atau bagaimana manusia melihat hewan.” Institute of Critical Zoologist, pusat keilmuan pertama yang ditujukan demi dialog ilmu kehewanan dalam ranah ilmu sosial, ekologi, dan seni, adalah sebuah proyek jangka panjang seniman ini, yang selanjutnya selalu berfungsi sebagai payung organisasi untuk proyek-proyek tunggalnya.

Salah satu karya Robert yang paling terkenal, yakni A Guide to the Flora and Fauna of the World, menggabungkan gambar lima puluh lima tumbuhan dan hewan yang dipermak secara digital sehingga terlihat alami, tetapi sebenarnya buatan manusia sehingga tidak pernah dimuat dalam ensiklopedia sejarah alam. Panduan dalam karya itu memaksa kita merenungkan cara-cara yang ditempuh umat manusia untuk mengubah planet ini, yang masih berlanjut hinga kini. Selain itu, panduan itu juga mempertanyakan cara-cara yang kita tempuh untuk mengendalikan alam secara stilistik demi kepentingan persepsi kita, serta menyelidik bagaimana sikap dan opini kita – yang juga merupakan bentuk fiksi – membentuk asumsi kita tentang dunia.

Sebagian besar karya Robert difokuskan pada bentang alam Singapura – yang merupakan sebuah fiksi lain – dan mencakup representasi fakta, meniru tampak luar suatu dokumen, tetapi menenun yang riil dan fiktif, penaburan benih keraguan dalam benak penonton tentang objektivitas gambar yang mereka tengah amati.

Untuk Jakarta Biennale, Robert memperlihatkan serangkaian foto, hampir seukuran sebenarnya, yang menampilkan sebatang pohon sangat tua dan besar yang telah tumbang di dekat rumahnnya. Di Singapura, pohon-pohon dipotong-potong menjadi menjadi beberapa penggalan agar mudah dipindahkan. Pemotongan fisik hingga menjadi penggalan-penggalan itu mengilaskan – tapi tidak secara persis berhubungan dengan – bagaimana Zhao menyunting dan mengurutkan citra-citra itu. Hal ini mengisyaratkan bahwa mungkin ada cara-cara lain untuk “mengelola” alam, entah itu lewat pihak berwenang maupun seni.