Semsar Siahaan

Semsar Siahaan

Lahir di Medan, Indonesia, 1952. Meninggal di Tabanan, Indonesia, 2005.

 

 

Semsar Siahaan adalah ikon utama aktivisme seni di Indonesia. Ia memberdayakan seni sepenuhnya sebagai upaya pembebasan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan. Keindahan seni justru muncul dengan sendirinya dari upaya pembebasan yang dilakukan oleh seniman. Kebebasan perorangan ada demi pembebasan manusia terbanyak.

Semsar memperoleh pendidikan formal seni pertama kali di San Francisco Art Institute (SFAI), San Francisco, Amerika Serikat, pada 1975. Ia belajar seni lukis antara lain dari para pengampu semisal Bruce McGaw dan Ursula Schneider, pelukis-pelukis Amerika. Pada 1977, ia kembali ke Indonesia dan belajar seni patung di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, di bawah para pematung terkemuka (Rita Widagdo, G. Sidharta, Sunaryo, dan Surya Pernawa). Pada masa ini Semsar tidak cuma mematung, ia juga melukis.

Pada 1981, ia menggegerkan dunia seni rupa Indonesia dengan mengabukan patung karya Sunaryo, gurunya. Karya itu baru saja kembali dari pameran seni patung internasional di Fukuoka, Jepang. Semsar membakar hangus patung itu, membungkusnya dengan daun pisang, dan menyajikan nasi kuning. Ia menyebutnya “seni kejadian” dan kena skors dari kampus.

Bagi Semsar, seni modern Indonesia memuja keindahan estetik. Para seniman memanipulasi seni tradisi untuk kepentingan ego mereka sendiri. Sejak kepeloporan Raden Saleh (1811–1880), kiblat seni di Indonesia adalah Barat dan mimpinya adalah kemakmuran negara-negara maju. Estetika modern ini abai terhadap kenyataan sosial di negeri sendiri, yang sebagian besar terdiri atas kaum agraris miskin (petani dan nelayan). Pada masa Orde Baru, hak-hak dasar rakyat itu dihilangkan dan kemanusiaan mereka ditindas.

Pada 1988, Semsar Siahaan menyelenggarakan pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran ini ditujukan untuk ayahnya, Ricardo M.J. Siahaan, dan “seluruh rakyat Indonesia yang berjuang mempertahankan hak dan hidupnya”. Ia menampilkan 250 gambar hitam-putih dan 12 lukisan.[1] Peneliti seni modern Indonesia, Brita L. Miklouho-Maklai (1991, 1997: 110), mengatakan, citra penindasan dan kekerasan yang mengerikan pada karya Semsar diolah dari karya-karya humanistis seniman Jerman, Käthe Kollwitz, dan satir George Grosz.

Kedekatan Semsar dengan Grosz tampak terutama pada citra Manubilis, sosok manusia-binatang-iblis ciptaan Semsar. Istilah ini sudah muncul dalam cerita pendek yang ia tulis pada 1982. Rupa Manubilis adalah para pengisap tengik yang tampak beradab (civilized clowns). Citra kematian, penindasan, dan kejelataan terpapar sangat tajam dalam semua gambar Semsar. Imaji-imaji semacam itu dikontraskan dengan kekuasaan, ketamakan, dan kedegilan. Suasana to be or not to be bercampur dengan ironi, sinisme, dan sarkasme. “Keutamaan estetika” menemui ajal di jalan penuh paku dan duri seni pembebasan Semsar.

Pameran tunggal itu berkeliling ke sejumlah kota di Jawa, menemui jejaring para aktivis di Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, dan Bandung. Pada malam di ujung pameran, di Gedung Yayasan Pembina Kesenian, Bandung, Minggu, 10 April 1988, Semsar Siahaan mengumumkan “Seni Peristiwa Monumental Menentang Pemilikan Pribadi atas Karya Seni”. Tanpa ragu sebagaimana waktu ia mengabukan patung karya gurunya, Semsar membakar semua gambar yang “harus dikembalikan pada apinya semangat pembaharuan”. Pemilikan pribadi adalah lahan subur neofeodalisme dan budaya itulah yang berbiak cepat pada masa kekuasaan rezim Orde Baru (1966–1998).

Bagi Semsar Siahaan, kebaikan bisa dibicarakan dari sudut yang beroposisi, yakni hal-hal yang dianggap buruk. Maka, mengekspresikan kebaikan juga bisa dilakukan melalui objek-objek yang dipandang buruk. Dengan cara itu, ia mengekspresikan simpul bahwa pembicaraan tentang seni tidak identik dengan estetika atau keindahan semata.

Pada 1993, Semsar masuk kembali ke Galeri Lama, TIM, tempat ia berpameran pada 1988. Ia menggubah karya instalasi site-specific di ruang galeri yang nyaris roboh. Karyanya berupa sebuah “monumen negatif” berupa galian seluas 9 x 3,5 x 2 meter yang menjadi kuburan patung-patung manusia tanah sebagai umpama tumpukan mayat para korban. Pada sekeliling dinding, ia melukis mural hitam-putih seperti gambar-gambar Manubilis-nya yang menegangkan. Karya Penggalian Kembali adalah monumen tentang korban kekejaman politik dalam sejarah Indonesia mutakhir. Bagi Semsar, perdebatan isme-isme di dalam seni tidak memecahkan masalah perjuangan manusia yang nyata. Oleh karena itu, pada dinding pintu masuk karya itu ia menulis: “Anda memasuki daerah bebas gravitasi posmo.”

Semsar niscaya berang atas situasi ketidakadilan di sekitarnya. Ia seniman yang selalu siap turun ke jalan. Pada 1980-an, ia sudah terlibat dalam pembentukan sejumlah lembaga swadaya masyarakat; sebut saja INFIGHT (Indonesian Front for the Defence of Human Rights) dan YMB (Yayasan Maju Bersama), yang bergerak dalam perburuhan di Tangerang. Di dalam dinamika aktivisme yang marak pada masa itu, spanduk, poster, baliho, dan gambar-gambar Semsar Siahaan menyertai langkah-langkah para demonstran di jalan-jalan. Pada 1994, ia bergabung dengan para demonstran untuk menentang pemberedelan tiga majalah, Tempo, Editor, dan Detik, di Jakarta. Pasukan keamanan menghajar Semsar ketika ia berupaya melindungi seorang demonstran perempuan. Kaki Semsar, yang sejak kecil memang lemah karena penyakit polio, patah tiga.

Krisis politik dan kerusuhan rasial menjelang reformasi 1998 membuat ia risau. Beberapa mahasiswa mati ditembak; sejumlah aktivis dan seorang penyair sahabatnya, Wiji Thukul, diculik. Ia pun merasa jiwanya terancam. Setelah beberapa lama, ia memutuskan untuk tinggal di Kanada (1999–2004). Namun, pada 2004 ia kembali mempersembahkan pameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, bertajuk “The Shade of Northern Lights”, menampilkan sejumlah lukisan dan karya instalasi. Tampak ada perkembangan tematik dan bentuk, seperti dalam G-8 Pizza dan The Study of Falling Man. Semsar menaruh perhatian saksama pada perkembangan geopolitik global yang dikuasai oleh negara-negara industri maju. Bagi Semsar, politik global ditandai oleh kemunculan neokapitalisme yang mengarahkan moncong ke seluruh dunia melalui perdagangan bebas di bawah World Trade Organization (WTO). Ia melambangkan negara-negara G-8 dalam bentuk piza raksasa dari kardus yang dipotong delapan, di bawah kontrol para Manubilis bersama kroni-kroni mereka. Berhadapan dengan piza raksasa itu, bayangan manusia layaknya Icarus tersungkur jatuh ke dalam jurang ketidakpastian. Seni oposisional atau penghadap-hadapan Semsar tampak mengalami perluasan konteks dan pencanggihan visual.

Lewat pameran terakhir itu, Semsar pun berpamit. Ia memutuskan untuk mencari tempat lebih tenang di Bali, merencanakan sanggar kreatif di sebidang tanah di Tabanan, Bali Utara. Di tengah persiapan itu, ia jatuh tersungkur oleh serangan jantung yang tiba-tiba. Semsar Siahaan wafat pada dini hari, Rabu, 23 Februari 2005, di rumah sakit di Tabanan.

Sosok dan karya Semsar Siahaan ditampilkan lewat “Menimbang Kembali Sejarah”, bagian khusus yang mengangkat seniman dengan kontribusi khas di dunia seni rupa. Sebagai penghormatan kepada ikon seniman-aktivis ini, Jakarta Biennale memamerkan beberapa karyanya berupa lukisan, gambar, reproduksi poster, dan sejumlah arsip pribadi, termasuk buku harian yang ia tulis pada 24 Oktober 1998–13 September 2002 ketika berada di luar Indonesia. Di samping itu, diterbitkan pula buku berisi tulisan-tulisan Semsar Siahaan, wawancara-wawancara, dan tulisan tentang sejumlah pameran karyanya.

 

 

[1] Angka 250 diperoleh dari katalog pameran tunggal tersebut dan tulisan Sanento Yuliman dalam rubrik Seni Rupa majalah Tempo, 16 Januari 1988 (“Pusaran Semsar”), sementara dalam buku Brita L. Miklouho-Maklai, Exposing Society’s Wounds, Some Aspects of Contemporary Indonesian Art Since 1966 (1991, 1997), disebutkan jumlah 240.