Shamow’el Rama Surya

Shamow’el Rama Surya

Shamow’el Rama Surya

Lahir di Sumatra, Indonesia, pada 1970. Berbasis di Jakarta, Indonesia.

 

 

Fotografer kelahiran Sumatra, Shamow’el Rama Surya belajar fotografi pada 1990. Ia lulus dari sebuah kursus jurnalistik di Insitut Dr. Soetomo di Jakarta pada 1995. Shamow’el sekarang dianggap sebagai salah satu fotografer paling penting dari generasinya di Asia Tenggara. Buku kumpulan foto pertamanya, Yang Kuat yang Kalah, terbit tahun 1996, mendorong lahirnya satu generasi fotografer Indonesia, termasuk Ng Swan Ti dan Edy Purnomo.

Shamow’el Rama Surya sekarang membaktikan hidupnya untuk misi kemanusiaan dan keagamaan. Salah satu rangkaian fotonya yang paling menarik, Yogyakarta: Street Mythology (1998–2000), mencatat perpaduan budaya keagamaan seperti Hindu, Buddha, dan Islam dengan kapitalisme dan aliran kepercayaan yang dipraktikkan di Yogyakarta. Foto-foto ini menampilkan orang-orang dan situasi seakan-akan mereka bukan dari masa sekarang. Setelah kejatuhan Suharto, masyarakat Indonesia mulai menemukan kembali identitas spiritual dan politik, kepercayaan, dan ideologi mereka. Seperti yang disaksikan oleh Shamow’el: masyarakat ini hendak berusaha menciptakan mitologi mereka sendiri.

Untuk Jakarta Biennale 2017, Shamow’el akan menampilkan rangakaian foto pilihannya, A Certain Grace (2014), yang dibuat selama sebuah residensi di Papua. Perjalanannya ke Minyambaow, sebuah desa di pegunungan Arfak, sebuah kabupaten di Papua Barat, berawal ketika ia diajak menjadi relawan sebagai pengajar sementara di sekolah menengah di sana. Namun, Shamow’el berupaya menghindari penggambaran kuno orang Papua yang menggunakan pakaian tradisional, yang lagi-lagi mempraktikkan ritual yang menarik wisatawan. Alih-alih, ia memusatkan perhatiannya pada kehidupan sehari-hari subjeknya dan pada praktik spiritual dan upacara mereka. Lagi-lagi, perpaduan dan kontradiksi tegas menjadi penting. Ia melambangkan, misalnya, beberapa keluarga mengikuti ekaristi hari Minggu, tetapi ia juga menangkap praktik animisme dalam batas-batas agama pada umumnya. Ia memfoto anak-anak bermain di luar, orang-orang berdoa, atau menari dalam ritus selama misa. Anjing atau babi, yang nantinya akan dimakan, berkeliaran sebagai bagian dari dunia yang ingin ia tangkap, seperti juga anak muda dalam peristiwa olahraga menggunakan kostum klub bola favorit mereka. Ia menangkap rasa penasaran dan hasrat masyarakat Minyambaow untuk ikut andil dalam globalisasi, sementara pada saat bersamaan tempat mereka hidup di tengah lingkungan alam yang liar diganggu dan dieksploitasi oleh globalisasi yang sama.