Siti Adiyati

Siti Adiyati

Lahir di Yogyakarta, Indonesia, pada 1951. Tinggal dan berkarya di Yogyakarta, Indonesia.

 

 

Pada pertengahan 1970-an avant-gardisme seni rupa Indonesia lahir dengan mencetuskan kondisi keobjekan (objecthood). Tak seperti tradisi lirisisme, yang menegaskan bahwa subjek selalu unggul dan berkuasa atas realitas eksternal, dalam avant-gardisme objek-objek menerobos ke luar dari subjektivitas diri seniman.

Avant-gardisme ini menawarkan seni konsep dan kekonkretan ide, diusung oleh Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) pada 1975–1979. Motornya adalah sejumlah seniman muda Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, yang sebagian besar laki-laki. Siti Adiyati dan Nanik Mirna (almarhum) adalah dua perempuan di dalam gerakan itu. Eceng Gondok Berbunga Emas merupakan karya Siti Adiyati yang pertama kali dihadirkan dalam pameran kedua GSRBI di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 1979.

Pada 1970-an, jurang masyarakat kaya-miskin makin mencolok di Jakarta. Orde Baru telah mengesahkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing 1967. Maka, terbukalah kesempatan bisnis baru di kalangan militer maupun sipil. Terjadilah tarik-menarik kekuasaan dan kepentingan antara jenderal-jenderal politik dan kaum teknokrat yang mulai lahir. Kelompok orang kaya baru mulai tampak mencolok. Gaya hidup mewah ditunjukkan secara berlebihan dan kaum pinggiran terlempar dari gelanggang pembangunan.

Siti Adiyati menghadirkan ironi semacam itu dalam bentuk sebuah kolam. Ke dalam kolam ia memindahkan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) sebagai metafora parasit kehidupan yang berbiak tanpa kendali. Eceng gondok pada karya 1979 diambil dari Kalipasir, Jakarta Pusat, yang dihuni oleh golongan miskin kota. Namun, di dalam kolam juga ada sejumlah bunga mawar plastik berwarna emas yang tampak anggun. Mana yang sungguh-sungguh parasit dalam kehidupan nyata kita?

“Pada saat itu harga sekilo beras sama nilainya dengan setangkai bunga mawar plastik di toko. Bunga mawar plastik adalah benda mewah yang mesti diimpor, digemari oleh kalangan atas Jakarta. Sedangkan masyarakat miskin sulit sekali membeli sekilo beras untuk kehidupan sehari-hari mereka. Dan di masa itu tidak ada seniman yang tertarik pada sesuatu yang hidup. Para seniman – kaum laki-laki – hanya tertarik pada benda-benda mati saja,” tutur Siti Adiyati.

Dalam Jakarta Biennale 2017, Siti Adiyati memperbesar kolam eceng gondoknya. Kolam Eceng Gondok Berbunga Emas di sini berukuran 20 x 8 meter dengan kedalaman air 30 cm. Seluruh permukaannya ditutupi ratusan eceng gondok dan 1.600-an batang mawar plastik bersepuh emas. Eceng gondoknya berasal dari empang sebuah perusahaan real-estate terkemuka di Jakarta Utara. Harga setangkai mawar plastik ini setara 3 kilogram beras raskin – beras untuk kaum miskin. Perbandingan antara harga-harga kebutuhan pokok dan barang-barang konsumtif menjadi semakin lebar setelah 40 tahun.

Karya ini dapat dilihat sebagai sebuah dokumen multitafsir yang merangkum konflik, kegundahan, dan keriangan dalam sebuah kolam. Realitas berubah dan bergerak, tapi ironi tetap muncul mengiringi segenap perubahan itu.