Ugo Untoro

Ugo Untoro

Ugo Untoro

Lahir di Purbalingga, Indonesia, pada 1970. Tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Indonesia.

 

 

Ugo Untoro belajar di jurusan seni lukis, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta (1988–1994). Mulai berpameran tunggal sejak 1995 dengan tajuk “Corat-Coret” di Bentara Budaya, Yogyakarta. Pameran tunggal Untoro yang terkenal, “Poem of Blood”, telah ditampilkan di Yogyakarta, Jakarta, Shanghai, Hong Kong, dan Roma pada 2007–2009.

Apa yang dihadirkan oleh seniman jika karya seni dikatakan sebagai ekspresi jiwa? Apakah jiwa seniman menetap pada objek-objek yang diseleksi atau corat-coret “autentik” di atas selembar kertas? Dapatkah seorang seniman menampik diri sendiri ketika ia memiliki intensi mencipta karya seni?

Gagasan mengenai jiwa seniman menggugah gereget artistik Ugo Untoro. Ia pengagum Sudjojono (1913–1986), seniman-perintis modernisme di Indonesia yang merumuskan gagasan seni sebagai “jiwa ketok”. Terkait dengan itu, Ugo tertarik untuk mendiskusikan apa yang substansial hadir dan apa yang hanya secara imajiner terbayang dalam karya seni. Baginya, karya seni ditandai secara maknawi oleh proses artistik yang terus berjalan. Proses itu sebenarnya tidak boleh berhenti menjadi substansi yang ajek atau kalkulasi matematis; proses itu justru menjadi hakiki melalui durasi waktu.

Pada Jakarta Biennale 2017, Ugo menampilkan sejumlah lukisan yang diilhami oleh ingatannya akan ibu, sosok yang dia anggap hakiki dalam kehidupan. Dalam perjalanan waktu, relasi dengan yang hakiki ini bisa berubah-ubah. Kejauhan dan kedekatan dengan yang hakiki mewujudkan sesuatu yang dinamis. Relasi itu seperti tarik-menarik antara seniman yang terus berproses mencipta karya seni dan karya seni itu sendiri. Pada suatu saat karya seakan tak dapat dilepaskan dari senimannya, pada saat yang lain karya itu mandiri.

Gagasan di atas hadir melalui bonsai. Bagi Ugo, bonsai yang hidup di alam adalah sesuatu yang hakiki. Hakikatnya tetaplah alam, tetapi bonsai juga merelasikan antara alam dan pembuat bonsai; dialog intensif antara subjek dan objeknya. Dialog ini terjadi melalui tahap-tahap fisik (menanam, merawat, menyiram, memangkas, dan sebagainya) sehingga melahirkan sesuatu yang melampaui citra yang tampak. Peristiwa alam yang menghidupkan seperti hujan adalah misteri tak terduga dari semua itu. Tapi, melalui proses dialog dengan objeknya, bukan bonsai atau curahan hujan yang jadi pusat perhatian Ugo, melainkan apa yang dirasakannya selama proses mengamat-amati yang akan berlangsung terus tanpa titik.

Kanvas-kanvas Ugo menandai proses peleburan antara subjek dan objek, yang dilakukan dengan cara melukis berulang-ulang objek yang sama, dengan persepsi yang berbeda-beda. Dengan cara itu, Ugo mau menciptakan suatu rangkaian kemiripan melalui sarana-sarana yang justru tidak mirip (to produce resemblance with non-resembling means).

Bonsai adalah potret terbatas mengenai alam. Relasi personal antara seniman dan alam memiliki banyak wajah. Kemajemukan relasi itu merupakan tafsir Ugo mengenai jiwa dan ruang-ruang dinamis yang melingkupinya.