Willem de Rooij

Willem de Rooij

Willem de Rooij

Lahir di Beverwijk, Belanda, pada 1969. Menetap dan bekerja di Berlin, Jerman.

 

 

Willem de Rooij menggeluti proses-proses produksi, seleksi, interpretasi, dan penggabungan gambar menggunakan beragam media, mulai dari patung, fotografi, film, hingga teks. Melalui penyelidikan dan apropriasi artefak budaya dari jenis yang paling beragam, Willem mencermati sejarah Eropa dan hubungannya yang sering rumit dengan bekas koloni-koloninya. Ia menganalisis kaidah-kaidah presentasi dan representasi dengan membangun tensi antara produksi makna secara sosiopolitik dan otonom. Instalasinya yang kompleks melibatkan tidak hanya arsitektur eksibisi, tetapi juga objek-objek seni dan etnografis dari berbagai koleksi museum, atau karya seni ciptaan seniman lain. Melalui tindakan apropriasi itu sendiri, Willem mengukuhkan ciri spesifik dan artistik objek tersebut dan menampilkannya dalam pameran atau instalasi berskala besar – meminjam kata-katanya sendiri: kolase tiga dimensi.

Untuk Jakarta Biennale 2017, Willem akan mempertunjukkan Ilullisat, karya instalasi bunyi terbarunya. Ilullisat, yang berarti ‘gunung es’, adalah nama sebuah desa di Disco Bay, Greenland. Pada 1997, Willem dikagetkan oleh lolongan anjing-anjing kala senja, saat ia dan seniman Jeroen de Rijke tengah membuat film I’m Coming Home in Forty Days, sebuah film 16 mm yang menyajikan perenungan atas pergeseran warna dan cahaya, sembari mengelilingi gunung es. Hampir dua puluh tahun setelah itu, Willem kembali ke Disco Bay untuk merekam gonggongan kawanan anjing.

Selama lebih dari seribu tahun, nelayan setempat sudah menggunakan kereta seret untuk perjalanan melintasi fyord. Lolongan anjing-anjing di Greenland ini berkumandang di dalam ruang pameran yang gelap melalui dua belas pengeras suara. Dimulai dengan seekor anjing mendengking, lolongan sahut-menyahut akan menyusul, memenuhi ruang pameran dan berujung pada beragam kakofoni berupa pekikan, raungan, ratapan, dan gonggongan – semacam doa malam kanina. Terpisah dari sumber aslinya, bunyi dalam instalasi ini anehnya terdengar seperti suara manusia. Willem memanfaatkan rekaman bunyi sebagai bahan mentah untuk karyanya yang secara semantik ambivalen, di mana hubungan antara kesegeraan bunyi dan acuan eksternal dibangkitkan. Bagi Willem, penting kiranya semua informasi lain dikurangi hingga minimal sekali supaya pengalaman penonton akan terkonsentrasi pada satu elemen saja: bunyi. Dalam instalasi ini, tidak ada hal lain kecuali panggilan binatang-binatang itu. Pada saat yang sama, sulit untuk menghindari kecenderungan menghubungkan bunyi itu dengan tema yang lebih luas; ketertarikan Willem pada eksotisme, pertukaran lintas budaya, dan (salah) tafsir yang disebabkan oleh ide tentang “yang eksotis” itu sendiri.