Wukir Suryadi

Wukir Suryadi

Wukir Suryadi

Lahir di Malang, Indonesia, pada 1977.

 

 

Selalu mengaku belajar musik secara otodidak, Wukir meninggalkan kota kelahirannya pada 1994 dan nyantrik selama lima tahun di Bengkel Teater di Cipayung yang dipimpin Rendra (1935–2009). Wukir juga belajar pada maestro musik gamelan – tokoh dekonstruksi musik – I Wayan Sadra (1953–2001). Pada 2009, bersama Ilham J. Baday, Wukir berkeliling Jawa Timur dan Jawa Barat, menampilkan seni performans di stasiun, rumah sakit jiwa, alun-alun, sumber mata air, lokasi pembuangan sampah, dan pondok pesantren. Pada 2010, ia membentuk grup Senyawa, bersama Rully Shabara, yang kini membetot perhatian di kancah musik alternatif, Indonesia maupun dunia.

Tur melanglang buana (Amerika, Australia, Eropa, Asia, 2016) mengesahkan Senyawa sebagai grup dengan karya-karya di luar area musik – musik yang pramusik sekaligus pascamusik. Di Washington dan Seattle, Senyawa tampil sebagai pembuka dalam Unsound Festival (2016). Pada tahun yang sama, konser tunggal “Senyawa Tanah Air” diadakan di Gedung Kesenian Jakarta.

Gagasan mengenai “new music” di Indonesia sudah muncul sejak dekade 1960-an. Perlahan berkembang, “musik baru” berkumandang lagi melalui pertunjukan-pertunjukan dalam rangka KIAS (Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat, 1993–1994). Di sana, “musik baru” Indonesia sukses diwakili oleh sejumlah niyaga Jawa dengan perangkat “gamelan baru” (pralon, pipa air, sapu lidi, sampai balon). Jiwa “musik baru” inilah yang kini meledak melalui peristiwa musik Wukir Suryadi.

Bagi Wukir, sebagai seniman, yang terpenting adalah kesadaran akan bunyi, yang juga melibatkan unsur penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Dengan demikian naluri musik bisa berkembang seliar-liarnya. Dalam “The Instrument Builders Project” di Melbourne dan Yogyakarta (2013–2014), ia menciptakan karya bertajuk Akar Mahoni (2013) dan Ekologi Gong (2014). Yang pertama adalah instrumen bunyi yang berpangkal pada bonggol akar pohon mahoni yang bermutasi menjadi gitar elektrik, theremin, dan perkusi. Yang kedua, instalasi bunyi yang diinspirasi oleh gong yang digantung rendah di atas kolam kecil untuk memperoleh resonansi suara baru.

Pada Jakarta Biennale 2017, Wukir Suryadi menggubah suatu eksperimen sumber dan objek bunyi dari konfigurasi sabuk pelat kuningan. Pelat selebar jari tangan yang panjangnya bermeter-meter ini seakan dawai-dawai raksasa yang menantang potensi bebunyian. Pelat itu terpasang bersilangan pada sebuah dinding lebar. Interaksi antara dinding besar dengan khalayak penonton akan menentukan dengan sendirinya “komposisi” bunyi apa yang akan dihasilkan.

Dinding besar, bagi Wukir, menyimpan rahasia-rahasia besar dan keras, menciptakan segregasi, sekat-sekat antara “kami” dan “kalian”. Bunyi yang dihasilkan dari karyanya adalah representasi sesuatu yang tidak kita ketahui. Gaung bunyi objek itu menciptakan situasi dan nada spektral yang kaya dan berbeda-beda; seakan pantulan sekat dan batasan yang ada pada diri tiap audiens karyanya. Wukir menamai karyanya Kehidupan di Dinding Besar Kabarnya Keras (2017).