Yola Yulfianti

Yola Yulfianti

Yola Yulfianti

Lahir di Jakarta, Indonesia, pada 1981. Menetap dan bekerja di Jakarta, Indonesia.

 

 

Yola Yulfianti mulai belajar tari tradisional sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Ia menamatkan studi dalam bidang seni tari di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 2004 dan bidang seni urban dan industri budaya di kampus yang sama pada 2011. Untuk tugas akhirnya dalam program pascasarjana, Yola membuat Suku Yola, sebuah film di mana ia menciptakan sukunya sendiri sebagai tanggapan terhadap klaim identitas yang semakin dibekukan. Yola menerima Pearl Winner Award atas film tersebut pada Internationales Tanz Film Pool Festival.

Sudah sejak lama ia merasa keterasingan profesinya dari masyarakat yang menginspirasi karyanya. Pada 2012, Yola mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan sebuah proyek di kawasan kumuh Penjaringan, Jakarta Utara. Proyek ini menjadi pengalaman yang membukakan mata karena ia berkesempatan untuk menyelidiki masalah kelangkaan air bersih melalui karyanya, Payau #2 Waterproof. Lalu tidak ada jalan kembali. Sejak itu, Yola mulai mengamati kesulitan-kesulitan bertahan hidup di pusat kota besar seperti Jakarta melalui kepekaan tubuh seorang penari.

Gagasan yang melandasi karya-karya Yola adalah persepsi tentang kota besar sebagai panggung yang diliputi kekacauan—arena di mana hubungan antara ruang kota dan tubuh manusia dipenuhi ketegangan, bahkan kondisi saling menampik. Dalam kehidupan sehari-hari di kota, tubuh bahkan bisa “lenyap”. Para pengendara motor, contohnya, melindungi tubuh mereka dengan helm, jaket berlapis, kacamata hitam, dan masker wajah. Mereka yang mengendarai kendaraan roda empat menutup jendela kendaraan yang berlapis stiker gelap dan menghibur diri dengan teknologi audio-visual terbaru. Alhasil, realitas hidup yang mengelilingi para penduduk kota, yang beraktivitas secara terburu-buru tersebut, dapat lenyap tanpa sepengetahuan kita; penduduk kota hidup di tengah hutan kota, tetapi menghindari realitas kehidupan di sekeliling mereka. “Di jalan seolah-olah tidak ada orang lagi. Satu-satunya yang kulihat adalah patung-patung yang bergerak,” kata Yola. Bagi tubuh seorang penari, sebuah metropolis atau megapolis merupakan miseropolis – sebuah kota yang sarat penyiksaan tubuh.

Pada Jakarta Biennale 2017, Yola Yulfianti menyajikan instalasi, Pasar Senen Kampung Melayu PP (2011), yang dibuat berdasarkan riset S3-nya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Instalasi ini menampilkan beberapa karakter yang terlihat seperti avatar video game yang mengeksplorasi kompleksitas ruang kota. Para penari mengimprovisasi adegan yang seperti mimpi; menciptakan ruang di mana manusia dapat berinteraksi di jalan antara Kampung Melayu dan Pasar Senen – dua wilayah Jakarta yang sibuk. Kemungkinan-kemungkinan tubuh sebagai media ekspresi bertemu dengan teknologi media digital. Terciptalah narasi abstrak gaya bebas yang menyingkapkan gejala-gejala visual dari perkawinan mematikan antara subjek dan sistem sebuah kota, dalam semacam pesta jalanan.